Oleh : Miftah Nashir

Dewasa ini permasalahan ummat Islam semakin kompleks dan multidimensional, tidak hanya masalah moral, ibadah ataupun aqidah tetapi juga menyangkut masalah ekonomi, sosial,budaya bahkan politik. Tentu saja ini menjadi persoalan tersendiri bagi para aktifis dakwah dan menuntut pemecahan yang tidak sederhana. Maka dalam hal ini dai sebagai agent of change dituntut melakukan terobosan dan inovasi dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Dakwah Sebagai Aktifitas Profesional

Melihat fenomena tersebut, perlu adanya protokol yang jelas (baca : standardisasi profesi) dalam aktifitas dakwah yang dapat menjadikan para juru dakwah lebih bertanggungjawab, peka, tanggap dan inovatif dalam penyampaian dakwahnya. Perlu upaya komprehensif agar tujuan dakwah tercapai, sehinnga pesan dakwah tidak hanya sampai pada tahap penghayatan tetapi juga pada taraf aplikasi. Dalam hal inillah dai dituntut professional. Lantas, bagaimanakah dai yang profesioal itu?

Menjawab fenomena ini, muncul gagasan untuk menjadikan aktifitas dakwah menjadi aktifitas profesional yang serta merta menjadikan subjeknya menjadi seorang profesional. Tentu saja upaya menjadikan dai sebagai profesi ini bukan upaya bagaimana mencari penghidupan dari kegiatan dakwah. Hanya saja dalam penerapannya perlu difahami bahwa profesionalitas juru dakwah bukan untuk melegitimasi atau formalisasi juru dakwah sebagai lahan pekerjaan untuk mencari penghidupan an sich, namun sebagai upaya peningkatan kualitas dakwah, sehingga kemudian kegiatan dakwah menjadi rapih, terorganisir dan akuntabel. Ekses positifnya adalah target dan tujuan dakwah tercapai pada sasaran dan target yang tepat.

Kriteria Profesionalitas Dai

Profesional adalah orang yang menyandang suatu jabatan atau pekerjaan yang dilakukan dengan keahlian atau keterampilan yang tinggi, secara otomatis ini berpengaruh terhadap penampilan atau performance orang tersebut dalam menjalankan profesinya. Maka da’i yang professional setidaknya dituntut memiliki tiga 3 kriteria profesi yaitu: knowledge, skill, experience. Dalam pengertian yang lebih luas dai dituntut memiliki pengetahuan mumpuni tentang profesinya, kemampuan yang berkaitan dengan profesinya serta pengalaman dalam menjalankan profesinya. Lebih khusus untuk dai, hal penting yang tidak boleh ditinggalkan adalah sikap yang terkait dengan profesinya. Pada intinya, dibutuhkan kemampuan penguasaan materi agama Islam yang sangat baik, kemudian sikap dan penghargaan terhadap dakwah yang dilakukannya dan kemudian kemampuan teknis yang menyangkut metodologi dan tehnik dakwah yang memadai.

Karena da’i sebagai agent of change, maka harus mempunyai visi yang jelas tidak saja menyangkut wawasan Islam yang utuh tapi juga visi menyeluruh tentang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Hal ini penting karena pada perjalanannya, seorang dai harus mampu mengarahkan umat pada suatu tatanan mapan, establish, maju dan diperhitungkan di hadapan umat-umat lain. Dai yang professional tidak saja menjadikan Islam sebagai keniscayaan nilai yang terimplementasikan dalam kehidupan manusia, tetapi juga merupakan wacana praksis yang meskipun tidak bisa dipaksakan kepada manusia akan tetapi hanya dengan itulah keadilan dalam maknanya yang paling luas dan dalam dapat terlaksana; tentunya masih pada ranah berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Wallahu a’lam bisshawab.

Oleh : Miftah Nashir

Barangkali fenomena khas dan unik dalam setiap lebaran Idul Fitri adalah mudik. Khas karena fenomena ini menjadi semacam ritual tahunan dan menjadi kebiasaan kolektif bangsa Indonesia yang melekat dalam setiap momen Idul Fitri. Setahun sekali,  orang dari perantauan berduyun-duyun pulang ke kampung halaman pada hari-hari terakhir Ramadan.  Bahkan, Umar Kayam (2002) menyebutkan bahwa mudik telah terjadi berabad-abad lalu y

ang awalnya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Dahulu mudik menjadi kegiatan untuk membersihkan makam leluhur disertai upacara doa bersama untuk dewa-dewa dengan harapan agar para perantau diberi keselamatan dan keluarga yang ditinggalkan selalu dilindungi. Lambat laun akhirnya tradisi itu  terkikis ketika Islam masuk ke tanah Jawa. Meski demikian, peluang kembali ke desa setahun sekali itu muncul kembali lewat momentum Idul Fitri.

Dalam konteks kekinian, mudik menjadi ajang melepas rindu yang merupakan nilai-nilai primordialisme yang bersifat positif atau dalam istilah Emha Ainun Najib mudik sebagai upaya memenuhi tuntutan sukma untuk bertemu dan berakrab-akrab dengan asal-usulnya. Namun, karena tradisi mudik tahunan ini selalu identik dengan hadirnya Idul Fitri, maka maknanya tidak hanya sekadar peristiwa biologis yakni pelepasan rindu kampung halaman, melainkan juga memiliki makna spiritual yang begitu dalam.

Dimensi Spiritual Mudik

Setelah bergelut dengan hiruk pikuk kehidupan kota yang begitu keras maka bersua  dengan keluarga, sungkem kepada orang tua, bertegur sapa dan berbagi rasa dengan tetangga menjadi sebuah kesempatan berharga untuk merestorasi spiritualitas yang terkikis seiring dengan makin ketatnya kompetisi. Maka, dalam hal ini prosesi mudik menjadi semacam transformasi spiritual untuk mewujudkan solidaritas terhadap sesama yang dibelenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan di tengah peradaban modern.

Hal diatas semakna dengan apa yang dilontarkan Jalaluddin Rakhmat yang menganggap bahwa mudik lebaran sebagai sebuah perjalanan melintasi waktu. Disaat manusia merasa menjadi modern yang dibarengi dengan kehilangan rasa kemanusiaannya, maka tak ada lagi ruang kasih sayang dan emosi manusiawi yang ditebarkan bagi manusia lainnya sehingga yang muncul adalah perangai kasar yang mementingkan diri sendiri dan agresif.

Beliau mensinyalir bahwa kita sedang mengembangkan struktur sosial ‘ayam besar’ yang berusaha mematuk yang lemah. Kita telah menjadi materialistis yang siap mengorbankan perasaan kemanusiaan untuk keuntungan material. Semua orang seolah-olah sakit, termasuk para dokter dan pegawai rumah sakit. Untuk itu, diperlukan terapi yang sifatnya massal. Terapi yang diberikan haruslah menghilangkan semangat memiliki material ke semangat kekeluargaan yang spiritual.

Dalam hal ini, spiritualitas mudik setidaknya mengingatkan kita akan keluhuran manusia yang masih memiliki semangat asal. Karena melalui mudiklah, kita sebenarnya diingatkan kembali kepada awal kejadian kita, di mana untuk pertama kalinya kita melihat dunia. Mencenungi saat berada di kandungan ibu. Kandungan disebut pula sebagai rahim. Tuhan pun diseru dengan sebutan ya rahim. Wahai yang memberikan kasih sayang. Kasih sayang Tuhan mewujud pada kasih sayang (rahim) ibu.

Dengan demikian, mudik jangan dijadikan semacam ritual tahunan yang sangat konsumtif. Hal-hal seperti berbagi rezeki, menyambung tali silaturahmi, mengakhiri permusuhan, dan memohon maaf pada kedua orang tua jauh lebih bermakna. Dalam bahasa yang lebih luas,  mudik seharusnya mendorong kita mewujudkan nilai-nilai transenden untuk kemudian sedikit demi sedikit meluruhkan belenggu hedonisme-materialisme yang tercipta di tengah peradaban modern. Semoga.

“Selama ini masyarakat tidak dididik untuk tahu—atau mau tahu—tentang dari mana benda-benda yang dikonsumsi berasal, berapa banyak sumber daya alam yang digunakan untuk memproduksi itu semua, dan ke mana semua itu akan berakhir riwayatnya—kertas, tisu, bungkus permen, puntung rokok, komputer, pakaian, dan sebagainya.”

Kerusakan di muka bumi telah tampak nyata dan semakin hari semakin memprihatinkan. Terutama masalah sampah yang menjadi masalah krusial dalam isu kerusakan lingkungan hidup.

Dalam 5 tahun terakhir saja, volume sampah di Bandung bertambah rata-rata 41 % atau 462.430 m3 per tahun. Parahnya lagi, volume sampah yang diolah baru 10% dari total produksi sampah kota. Sedangkan setiap tahun volume sampah bertambah terus menerus. Setiap penduduk berpotensi menghasilkan sampah 3 liter per hari. Tak heran dengan jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa, beban sampah tahun 2005 mencapai 7500 m3 per hari.

Ternyata sampah yang terkumpul dari rumah tangga, kemudian diangkut ke TPA, tidak serta merta menyelesaikan persoalan. Malah menimbulkan persoalan lain seperti kejadian fenomenal longsor di Leuwigajah. Tumpukan sampah menyebabkan gas metana yang berdekomposi menghasilkan panas yang sangat tinggi ketika ada tekanan udara dari atas, sementara bagian tumpukan sampah paling bawah mengandung bakteri anaerob yang tidak bisa bersenyawa dengan udara. Akibatnya, tekanan udara berbalik ke atas menghasilkan ledakan besar mirip bom berkekuatan tinggi.

Perlu Kesadaran Kolektif
Bermasalahnya pengelolaan sampah bukan sekedar karena keterbatasan teknologi dan ekonomi semata, melainkan lebih pada adanya masalah budaya; kebiasaan lama, perilaku dan pola pandang keliru terhadap sampah dan ini harus segera dikoreksi. Dewi Lestari berpendapat bahwa selama ini masyarakat tidak dididik untuk tahu—atau mau tahu—tentang dari mana benda-benda yang dikonsumsi berasal, berapa banyak sumber daya alam yang digunakan untuk memproduksi itu semua, dan ke mana semua itu akan berakhir riwayatnya—kertas, tisu, bungkus permen, puntung rokok, komputer, pakaian, dan sebagainya. Pelajaran Biologi, misalnya, mungkin sebagian relatif gagal karena tidak membuat murid bertanya mengapa petani cukup sering mengalami kekurangan pupuk, atau mengapa sumber air bersih di sekitar mereka sudah tak lagi jernih.

Persoalan pelik tentang sampah ini, tidak melulu menjadi urusan pemerintah atau aktifis lingkungan saja. Sebagai contoh, di Kota Bandung saja, potensi sampah yang dihasilkan mencapai 3.677.377 meter kubik per hari,dan hanya 82 persen saja yang mampu diangkut oleh Dinas Kebersihan. Maka, perlu adanya kesadaran kolektif sinergis antara pemerintah, aktifis, pendidik dan masyarakat umum. Perlu adanya gerakan pengelolaan sampah yang benar, yang dimulai dari individu-individu dalam skala kecil.

Mengubah Paradigma Masyarakat

Dampak lingkungan di perkotaan cenderung tidak terdistribusi secara merata, baik secara sosial maupun geografis. Selama ini solusi permasalahan sampah masih menggunakan pola mengalihkan sampah ke tempat lain, atau sering disebut dengan NIMBY (Not In My Back Yard), fenomena ini melekat pada individu-individu yang tidak peduli pada lingkungan sekitar. Yang penting lingkungan saya bersih, sehat, tak peduli lingkungan sekitar mau bersih atau tidak. Gamblangnya, NIMBY sebagai masnifestasi sikap apriori dan ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar, asal saya sehat tak peduli orang lain sakit karena ulah saya. Asal lingkungan rumah saya bersih, tak peduli lingkungan tetagga kotor.

Menyikapi hal ini, perlu adanya pengelolaan alternatif yang dapat dapat menuntaskan persoalan secara menyeluruh. Dalam hal ini alternatif landfill kurang tepat. Memang secara sepintas, metode landfill relatif mudah dilakukan dan bisa menampung sampah dalam jumlah besar. Akan tetapi, jika tidak dilakukan dengan benar, landfill dapat menimbulkan masalah, yaitu bau dan pencemaran air. Selain itu, gas metana yang dihasilkan oleh landfill yang tidak dimanfaatkan akan menyebabkan efek pemanasan global dan jika termampatkan di dalam tanah, gas metana bisa meledak.

Solusi Alternatif Ideal?
Solusi alternatif yang dipilih harus bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah dan menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Pemilahan sampah organik dan anorganik untuk kemudian dikomposkan dan didaur-ulang dalam hal ini bisa dijadikan alternatif, meski tidak serta merta menyelesaikan permasalahan sampah secara singkat. Alternatif ini lebih baik daripada daripada membuang sampah ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada saat ini. Sampah yang telah di daur ulang, kemudian dimanfaatkan oleh industri yang mendesain bahan produknya dari sampah yang didaur ulang. Bisa menghasilkan pupuk kompos, kerajinan dari bekas kemasan kopi, dan lain sebaginya.

Pada akhirnya memperlakukan sampah dengan baik akan memberikan nilai positif. Selain mengedukasi masyarakat tentang bagaimana mengelola sampah yang benar, juga dapat menghasilkan nilai ekonomi yang tidak bisa dibilang sedikit. Hanya saja perlu adanya gerak aktif dan sinergis dari semua pihak untuk duduk bersama dan seiya sekata dalam menyelesaikan permsalahan sampah ini. Bila semuanya menyadari arti penting dan manfaat kebersihan lingkungan, maka membuang sampah sembarangan akan menjadi hal yang langka di Indonesia. Semoga.



Ada nuansa tersendiri yang hadir, ketika saya (untuk kesekian kalinya) terkenang masa anak-anak yang penuh dengan keindahan, disertai dengan keluguan dan kepolosan tingkah. Tak ada beban pikiran menjemukan, apalagi masalah yang seringkali membuat dahi bekerut berlipat-lipat. Oh INdahnya!

Pada akhirnya, setelah sibuk dan agak lelah dengan aktifitas di siang hari, saya harus menyempatkan diri untuk setidaknya menulis 500 kata dalam sehari. Ritual yang saya ciptakan sekadar sebagai latihan untuk terus mengasah sense menulis. Ini tidak lain menjadi semacam ritual rutin, yang kadang menjemukan, tapi nikmat. Meski berulangkali menulis hal-hal yang absurd dan tidak serta merta dipahami secara utuh apa yang saya tuliskan, bahkan oleh saya sendiri.

Entah apa yang mendorong saya untuk menuliskan sebanyak 500 kata dalam setiap malam. Ada semacam dorongan, entah itu panggilan alam, atau semacam jam biologis yang sadar atau tidak sadar membuat jari saya terus menerus diatas keyboard. Dalam hal ini saya tidak sepenuhnya menyadari kegiatan menulis ini telah menelurkan beberapa kilobyte data, setelah dihitung-hitung, ternyata ini kali ke-64 saya menuliskan sesuatu yang kadang saya menyebutnya sebagai tulisan sampah yang (mungkin) suatu saat akan berguna.

Setidaknya, apa yang berkelindan dalam batok kepala saya bisa tersalurkan dengan sempurna tanpa mengendap lalu menjadi sesuatu hal yang terkadang bikin hati ini agak tertekan. Alhamdulillah aktifitas rutin ini seringkali membuat saya yakin akan potensi diri saya ada dimana. Setidaknya mengasah potensi ini bisa memberi harapan saat kondisi setelah lulus kuliah tidak memihak pada saya, yang mungkin ketika sudah menyandang gelar sarjana sosial.

Aneh, heran dan tak menyangka jika memperhatikan jejak langkah yang telah saya lalui. Begitu banyak kejutan yang tak sempat saya kira sebelumnya. Kesedihan berganti dengan kebahagiaan. Penderitaan berganti dengan hasil yang memuaskan, dan terkadang juga kepahitan selalu menghampiri dalam setiap lipatan waktu. Ya, kita tak pernah bisa secara tepat menerka-nerka apa yang akan terjadi di esok hari.

Ada ketakutan yang entah dari mana datangnya setiap kali membayangkan tentang masa depan. Akankah harapan dan impian-impian yang selama ini tertancap dalam ingatan terealisasi dengan sempurna. Apakah kenyataannya akan benar-benar jauh dari apa yang diharapkan? Entahlah, yang jelas akan ada kejutan-kejutan tersendiri. Dan keyakinan akan rencana Tuhan yang seringkali berakhir dengan indah lagi-lagi tak pernah dikira oleh kita, mahluk serba kekurangan.

…ketika akhirnya menulis menemui kebuntuan, inilah yang saya lakukan. Menulis apa yang terlintas dalam pikiran. Tak perduli apakah serasi atau tidak. Saya semakin tidak peduli ketika akhinya menyadari bahwa proses kreatif seseorang tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh rasio. Perlu pendekatan lain untuk memahami bagaimana seseorang menghasilkan sebuah karya. Entah itu bagus atau jelek. Saya lebih menikmati membuat sesuatu itu atas dasar perintah hati, tidak ada paksaan dan inginnya mengalir begitu saja. Tak ada tekanan. Tak ada deadline, dan yang jelas ini menjadikan sebuah kepuasan yang terus menerus mendorong saya untuk terus menulis hal-hal yang kelihatannya remeh temeh.

Belum terpikir juga apakah tulisan seperti ini layak untuk dibaca oleh khalayak, takutnya ketika di publish ada semacam judge tersendiri dari saya sendiri bahwa tulisan ini jelek. Pada akhirnya pikiran negatif seperti itu perlahan saya hapus, saya pikir tak ada karya yang jelek selama itu dihasilkan dengan proses yang orisinal. Dibanding dengan karya yang serba wah dihasilkan dari hasil menjarah intelektual orang lain.

7/12/2010 9:57:57 PM

Saya ingin menulis karena saya ingin dikenal oleh banyak orang, dengan menulis juga saya bisa beraktualisasi diri, menunjukkan kepada semua orang bahwa inilah saya. Dengan menulis juga, kita dituntut untuk mengerahkan segala pemikiran kita. Dalam rangka menulis, kita dituntut untuk lebih banyak membaca, dituntut untuk lebih banyak berpikir.

Maka, dengan kegiatan menulis, kita dirangsang untuk melakukan kegiatan positif lainnya. Ya, meskipun kegiatan menulis dirasakan susah untuk orang yang belum terbiasa, tapi jika dilakukan dengan menyenangkan dan tanpa beban, menulis seolah aktifitas yang tak akan terlepas dari aktifitas kita sehari-hari.

Untuk mendapatkan ide. Banyak sebenarnya ide itu, hanya saja kita harus jeli melihat ide. Ide berserakan di jalan-jalan, kampus, pasar ataupun disebuah pesantren. Hanya saja, perlu keterampilan khusus dalam membaca situasi social yang terjadi dimasyarakat, nah disinilah kepekaan terhadap permasalahan yang ada di lingkungan dibutuhkan. Apa yang sedang terjadi dimasyarakat, apakah ada masalah, kalau memang iya, lantas apa solusinya dalam menyelesaikan masalah tersebut. Dengan pemikiran sederhana seperti itu, sebenarnya sudah cukup untuk dijadikan sebuah artikel.

Dan yang terpenting dalam mengasah kemampuan menulis adalah langsung terjun menulis, tanpa takut salah ataupun jelek tulisan kita. Yang penting tulis, tulis dan tulis, soal benar atau salah penulisannya itu urusan nanti, tokh tidak aka nada yang menyalahkan tulisan anda ?

Hal yang perlu diperhatikan juga adalah pemilihan waktu biologismu untuk menulis, apakah malam hari, subuh hari, atau sore hari. Kenapa ini penting, karena tiap orang cenderung berbeda jam biologis mereka, biasanya ada orang yang merasa pikirannya fresh ketika subuh hari ataupun sore hari.

Nah, temukan jam biologismu yang cocok untuk menulis sesuatu.
dan seterusnya adalah menulis, menulis, menulis!

Mungkin judul diatas agak provokatif, tapi tenang dulu… saya hanya ingin mengupas sisi unik dari sang proklamator. Saya terharu membaca kisah beliau ketika dipenjara di Sukamiskin, baginya penjara bukanlah halangan bagi beliau untuk terus membaca, meski pemerintah Belanda saat itu, melarang keras Soekarno untuk membaca buku. Namun berkat jasa seorang sipir penjara akhirnya beliau bisa membaca buku diam-diam dengan cara “menyelundupkan” buku. Ini menggambarkan betapa gigihnya seorang Soekarno untuk mendapatkan ilmu, ketika di penjara sekalipun.

Keadaan diatas, kontras sekali dengan kebanyakan mahasiswa zaman kiwari. Bergerombol kesana kemari dengan dandanan serba wah. Berlomba menonjolkan rasa keakuannya sebagai mahluk paling trendy. Sementara itu, buku-buku di perpustkaan seakan menjadi hiasan rak dan barang usang yang tak tersentuh. Sehinga istilah perpustakaan ibarat tokek hampir menjadi sebuah kenyataan. Kenyataan pahit yang menempatkan perpustakaan sebagai tempat paling langka untuk dikunjungi. Miris sekali.

Sebagai insan intelektual, membaca buku atau setidaknya mengunjungi perpustakaan haruslah menjadi kebiasaan dan rutinitas. Tidak perlu didorong dan dikompori oleh dosen untuk membaca buku anu dan itu, juga tak indah rasanya jika seorang mahasiswa tidak membaca satu halaman buku pun dalam satu hari. Memalukan dan sekaligus memprihatinkan. Idealnya membaca buku menjadi semacam menu harian bagi seorang mahasiswa.

Persoalan lain yang cukup pelik adalah minimnya dukungan pemerintah dalam “pembudidayaan” minat baca masyarakat, terkhusus mahasiswa. Tidak adanya program buku murah, pemotongan pajak buku, atau harga khusus bagi pengiriman buku lewat pos menjadi persoalan yang menghambat budaya baca masyarakat Indonesia.

Saya kira, program buku murah atau gratis (kalau bisa) untuk siswa dan mahasiswa bukanlah hal muluk dan melangit. Bisa jadi hal ini menjadi terobosan baru dan spektakuler untuk memajukan pendidikan Indonesia sehingga kita tak perlu lagi malu dengan prestasi pendidikan Indonesia yang hingga kini masih carut-marut. Semoga.

Bagaimana menurut anda ?

Tasikmalaya, 6/28/2010 2:15:40 PM

Keserba-mudahan ini tidak serta merta menjadikan mahasiswa semakin produktif. Lantas, apa yang bisa kita banggakan kepada Bangsa Indonesia, tentang amanat yang disematkan pada pundak kita sebagai agen perubaahan ?” –mief-

Ada perubahan signifikan dalam kebiasaan saya menulis ketika akhirnya (setelah bosan berangan-angan), memiliki laptop yang saya anggap seperti ‘senjata’, atau sebagai pengganti pena untuk menulis. Ini kemudian menjadi semacam pembuktian untuk saya telah menggunakan uang Negara di jalan yang benar dan lurus. Bagi saya pribadi, laptop sangat penting untuk membiasakan diri menulis. Mencurahkan perasaan, menulis kejadian menarik, ide, perasaan, ataupun sebatas coretan tak bermutu untuk kemudian bertumpuk dalam satuan kilobyte.

Menulis, khususnya nge-blog menjadi semacam pelarian atas realitas. Ketika tidak ada ruang lagi untuk menyalurkan ide, perasaan atau untuk sekedar besantai ria maka blog menjadi sebuah penampungan semua kegelisahan hidup dengan menuliskannya. Semua itu sebagai alternatif  pelepasan kepenatan setelah bergelut dengan berbagai keseriusan.  Kurang indah rasanya kalau kehidupan akademis ini hanya melulu berkutat dengan buku, makalah, tugas, perpustakaan, dosen killer dan hal-hal yang berbau serius lainnya. Maka,  menulis dan juga nge-blog menjadi salah satu alat pelampiasan efektif untuk melawan kejenuhan ngampus. Atau, ketika teriakan tak lagi dengar oleh elit kampus, maka menulis adalah senjata terakhir dan cukup efektif untuk melawan ketidakadilan.

Tak bisa dipungkiri bahwa, kemajuan teknologi ternyata merubah cara manusia dalam melakukan sesuatu. Hampir-hampir budaya tulis dikertas mulai ditinggalkan, digantikan budaya menulis di komputer jinjing yang kini kehadirannya tidak lagi menjadi barang mewah, khususnya bagi mahasiswa. Dengan keberadaan benda berteknologi ini, semakin memudahkan mahasiswa untuk mengakses informasi lewat internet yang mulai tersedia di setiap sudut kampus.

Semakin ditinggalkannya buku, dan beralihnya ke laptop bukanlah hal yang perlu disesali karena mahasiswa telah terbantu dengan fasilitas ini. Bayangkan saja, dengan berat antara 1-2 kg, benda sekecil laptop ini bisa menyimpan ribuan buku-buku elektronik, yang jika dicetak bisa memenuhi ruangan kelas. Kemudahan dalam mengakses jutaan informasi di seluruh dunia, menjadi kelebihan tersendiri teknologi ini.

Perubahan tanpa Semangat

Perubahan adalah suatu keniscayaan. Muhammad Iqbal menegaskan bahwa manusia yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan akan terlindas dan tersingkir oleh zaman.  Ketidakmampuan dalam memahami perubahan menjadikan manusia diam ditempat. Begitu pula dengan menulis, yang asalnya menggunakan buku bertransformasi menjadi laptop yang  mobilitasnya tinggi, sehingga kegiatan menulis dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah perubahan ini menjadi sebuah pemicu berubahnya suatu kreatiitas? Apakah dengan majunya teknologi manusia semakin produktif dalam berkarya? Atau malah terlena dengan kemajuan teknologi sehingga menjadikan manusia semakin malas untuk berkarya ? transformasi dari buku ke laptop tentu sangat dirasakan manfaatnya. Beberapa tahun kebelakang sebelum laptop booming, seorang mahasiswa membuat tugas dengan membuat tulisan tangan di kertas bergaris bisa memakan waktu berhar-hari, atau bersusah payah mengetik di mesin tik hingga jari rasanya mau patah.

Namun, saya kira, perubahan yang terjadi sekarang lebih kepada perubahan sikap mental yang cenderung hedonistik dan instant. Ternyata,  kemudahan tidak serta merta meningkatkan kualitas dan kuantitas berkarya. Justru dengan kemudahan ini mahasiswa semakin ternina bobokan. Dan membuat mereka tidak sadar akan perubahan itu sendiri.

Kesadaran dalam konteks ini adalah adanya refleksi atas perubahan yang terjadi. Kegigihan masa lalu dalam membuat karya tidak lantas hilang dengan adanya perubahan. Justru dengan perubahan yang semakin memanjakan dan memudahkan ini menjadikan produktifitas meningkat. Tidak elok juga kalau kemudahan teknologi malah semakin mereduksi semangat dan kegigihan  dalam berkarya. Jika dulu untuk menjadi penulis saja harus bersusah payah. Menyiapkan kertas dan pensil untuk mencatat ide. Belum lagi harus mengetik di mesin tik yang membuat jari terasa mau patah. Atau memasang pita yang sangat sulit memasangnya. Sekarang, semua itu bisa dikerjakan hanya cukup dengan memijit tombol power dan kegiatan menulis pun bisa dikerjakan pada waktu dan tempat yang tak terbatas.
Selain hal diatas, fakta lain yang menyedihkan adalah tugas-tugas mahasiswa yang seharusnya berbobot dan kaya akan muatan intelektualnya malah terkesan tidak bermutu dan dipandang sebelah mata hanya karena dikerjakan dalam sistem kebut semalam. Parahnya lagi, mahasiswa banyak melakukan plagiat dengan hanya copas (copy-paste) langsung dari internet.

Pentingnya Kesadaran

Perubahan memang harus terjadi, namun kesadaran akan perubahan dan bagaimana mengaktualisasikan spirit masa lalu dalam konteks kekinian harus dipertahankan. Sangat tidak sehat juga ketika keserba-mudahan menjadikan manusia tertidur dari kesadarannya. Refleksi atas perubahan ini perlu agar manusia tidak semakin terasing dengan dirinya sendiri. Terlebih lagi jika perubahan mampu memperkaya diri manusia dengan semangat berkarya dan pengetahuan.

Romatisme semangat masa lalu bukanlah hal yang melangit untuk direalisasikan dalam konteks kekinian. Justru, menjadi ironis jika kegigihan masa lalu menjadi semakim melempem dalam era keserba-mudahan ini. Semoga saja, mahasiswa sekarang bisa merfleksikan segala perubahan demi perbaikan diri yang pada akhirnya menempatkan mahasiswa sebagai the real agent of change.

Menurut anda bagaimana?

Al-Ihsan Islamic Boarding School, Thursday, June 17, 2010, 21:44:07

Note : Artikel ini terinspirasi dari Artikel berjudul Buku, Laptop dan Semangat Perubahan, Mei, 2010.   Okezone.com

JIKA SAAT ITU DATANG…

Posted: June 14, 2010 in renungan-nya


“Apa yang terjadi saat kita tak memiliki upaya untuk menghindarinya? Saat semua usaha, harta, jabatan,  keluarga, -yang begitu kita banggakan- akan hilang dan sirna dari pandangan mata.”

::21 Desember 2008::

MATI. Kata yang penuh rahasia. Ada nuansa ketakutan, kehilangan, tangisan, air mata juga kesakitan (?). Tak ada yang tau, kapan ia datang. Dia datang tak dijemput, pulang pun dia tak meminta diantar. Dia ada disekitar kita. Di jalanan. Di laut. Di sungai atau mungkin dirumah kita. Dia berkelindan dalam setiap lipatan waktu. Kita bisa melihatnya lewat hal yang selalu menyertainya. Bahkan begitu dekat, dekat sekali. Hanya orang yang lengah (karena takdir? ), berpenyakit parah atau tua  yang sering menemuinya. KEMATIAN.

Saat itu malam. Dingin disertai angin. Membuat aku terjaga dari tidurku. Aku menengok kearah jarum jam membentuk sudut 20 derajat : 01.00  dini hari. Ah, kantuk masih terasa, namun masih bisa ku tahan untuk menjaga nenekku yang  terbaring lemah dipembaringan sebuah rumah sakit. Samar-samar aku mendengar suara gaduh. Belakangan aku tahu, suara gaduh itulah yang membuat aku terbangun.  Akhirnya rasa penasaranku mengalahkan hasrat untuk kembali memeluk bantal.

Dalam transisi alam mimpi dan nyata. Aku melihat kerumunan orang. Mereka berkumpul. Persis seperti orang-orang di pasar mengerumuni tukang obat. Tepatnya mengerumuni seseorang yang tengah berbaring. Penasaran aku mendekati kerumunan itu. Ternyata Ijrail sedang menunaikan tugasnya.  Mereka mentalkinkan orang yang sedang mereka kerumuni. Sekaratkah? Yang jelas, aku terpana melihatnya. Oh… begitu susah payah dia untuk bernafas, duduk pun dia lemah, terlentang dia tak bisa, akhirya dia hanya di peluk oleh keluarganya dan dibisikkan kalimat syahadat. Mereka tampaknya menyadari  bahwa Ijrail sedang menunaikan tugasnya.

Oh… begitu susah payah dia untuk bernafas, duduk pun dia lemah, terlentang dia tak bisa, akhirya dia hanya di peluk oleh keluarganya dan dibisikkan kalimat syahadat.

Aku masih saja terdiam di tempat ku berdiri, melihat apa yang akan terjadi. Sesaat kemudian aku melihat tanda bahwa Ijrail sedang mencabut nyawa. Kelihatannya dia kesakitan. Dia sempat memukulkan kedua tangannya ke atas, kemudian sesaat setelah itu hanya tangis dan jeritan yang kemudian terdengar di tengah kesunyian malam.

Aku terpana melihat apa yang sedang aku saksikan ini. Seketika rasa takut menjalari, melewati pori-pori, aliran darah dan sialnya rasa takut mulai merasuki otakku. Aku jadi semakin takut. Jika saat itu tiba,…. (ah, aku tak dapat membayangkannya) Aku merasa belum siap untuk menghadapinya, masih telalu jauh aku dari seorang Muslim yang taqwa. Masih banyak kepalsuan yang menghiasi hati .  Jangan, jangan sekarang atau dalam waktu dekat ini ya Allah… aku ingin jika engkau menjemputku, terukir senyum dalam perjalananku nanti. Amin.

Aku sering merasa bahwa masih banyak waktu untuk dihabiskan. Atau merasa kematian masih jauuh di depan mata. Tapi…. bagaimana kalau takdir berkata lain, siapa yang tahu, besok, lusa, minggu depan, tahun depan adalah hari dimana kita ‘bertransaksi’ dengan Ijrail.

Apakah usia muda bisa dijadikan jaminan bisa hidup lebih lama? Masih merasa bahwa masih banyak waktu untuk mengumpulkan bekal untuk akhirat nanti?

Lalu…Apa aku siap untuk mempertanggungjawabkan diakhirat nanti?

Apa aku siap untuk menerima catatan amal dengan tangan sebelah kiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat aku risau. Aku merenung diam sebentar. Berusaha menjawab pertanyaan tadi.

Banyubiru, 14 June 2010, 21:15:37

14 June 2010

21:15:37

“Bahwa menulis adalah menciptakan kata-kata magis yang sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian kita pada suatu fakta”

Aku terus mencari kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan Aku dalam versi keakuanku. Kata yang pertama adalah MALAM. Ya, MALAM menjadi situasi favorit bagiku. Saat tiada daya untuk melangkahkan kaki lagi. Hanya bisa diam, menatap layar komputer, menekan tuts keyboard dan membuat pikiranku liar, membimbingku menuliskan sesuatu untuk menumpuk data beberapa kilobyte memenuhi kapasitas hardisk. Hampir setiap hari.

Lagipula MALAM bagiku adalah situasi yang nyaman untuk : berfikir. Menulis atau sekali-kali menikmati senandung syahdu lantunan murottal Al-Ghamadi. Mengingat dan menghitung dosa. Berharap bisa menikmati tangisan di atas sajadah cinta. Dengan tanpa rasa malu meminta dan meminta lagi, dan berulangkali pula aku melakukan kesalahan. Dosa itu lagi. Aku merasa tersindir dengan syair lagu :

selalu ku sesali dosa, dan selalu ku ulang kembali.
dan Kau masih memberi kebahagiaan.
Ku bukan hamba pilihan…..

MALAM juga selalu menjadi saksiku terciptanya beberapa paragraph deskripsi. Meski hanya semacam racauan tulisan, dan seringnya aku diam sesaat kemudian setelah itu. Dilanjutkan dengan melamun. Sesaat kemudian sepi. Dan menggoyangkan jari-jariku kembali.

Atau representasi kata yang kedua adalah PERPUSTAKAAN, sebuah tempat paling “nyaman”dikampusku untuk merenung. Aku ingat, hari-hari sebelumya aku selalu membawa benda kesayanganku ke perpustakaan. Bergegas menuju lantai dua. Menuju kursi favoritku. Celingukan sebentar, mengambil sebuah buku, yang aku ambil sebagai “penyamaran’ agar aku terlihat seperti menulis referensi. Padahal aku sedang asyik “bertelur” ide yang berhari-hari tertimbun dalam otak. Dan beberapa menit kemudian otak kananku bekerja untuk berimajinasi dan berkoordinasi dengan saraf motorik untuk mengetikkan sesuatu.

Setiap ada kesempatan aku gunakan untuk mengejakulasikan ideku disana, aku tak tau, sejak beberapa minggu terakhir otakku ini memaksaku untuk terus mengeluarkan isinya. Aku jadi kelimpungan, terpaksa (dan belakangan aku menikmatinya) harus memenuhi hasrat untuk menyalurkan gairahku untuk menulis. Belakangan aku menyadari bahwa, menulis adalah sebuah kebutuhan. Seperti makan. Seperti minum. Seperti mandi, mungkin juga seperti tidur (ini kegiatan favorit teman-temanku di asrama), atau apalah itu. Aku cuma ingin menegaskan bahwa ilmu tak cukup untuk disimpan sendiri, tapi tulislah, biarlah manfaatnya mengalir jika memang bermanfaat. Masih lebih baik menjadi sebuah tulisan sampah dalam harddisk daripada disimpan dalam otak saja. Tak berguna. Meski dikeluarkan dengan kata-kata dimulut, efek rembesannya tak seberapa.

Aku mulai tak perdulikan apa yang akan kalian atau mereka katakan. Yang jelas aku menikmati kebiasaan ini, kebiasaan yang belakangan aku sadari, perlu kerja otak ekstra untuk menulis sebuah pragraph saja. Dan kebiasaan baruku ini menyadarkan aku akan suatu hal, MEMBACA. Membaca kehidupan, membaca karakter, membaca alam. Ini menjadikan aku sibuk dalam setiap lamunanku, atau setiap aku memandang langit, pohon, wanita cantik, pengemis, pedagang, nenek-nenek . Aku menyandu untuk mengamati simbol-simbol dalam setiap gerakan, lambaian pohon atau setiap hela nafas. Aku semakin mencandu lagi untuk terus memperhatikan simbol-simbol itu, lalu menerjemahkannya kedalam kata. Aku pikir, getaran-getaran udara mengandung simbol, siulan angin juga. Atau setiap bunyi. Gemericik air, dan gerak lagkah manusia di sekitarku.

Tasikmalaya, 11 June 2010, 21 : 39

kawan-kawan : ketika teriakkan tidak lagi di dengar, maka menulislah!

Sebuah OTOKRITIK

Posted: June 4, 2010 in kampus-nya, pemikiran-nya

protes mahasiswa, sebagai gerakan menuntut keadilan

Banyak yang memandang bahwa mahasiswa adalah kelompok sosial yang strategis sekaligus unik yang berperan dalam perubahan sosial-politik, unik karena mahasiswa cenderung memiliki idealisme yang masih terbebas dari hal berbau politis. Strategis karena,  dengan posisinya sebagai insan intelektual yang memiliki pengetahuan dipandang mampu dalam melakukan perubahan serta memiliki cukup banyak waktu untuk mengaktualisasikan diri sebagai insan akademis, hal ini kemudian menjadikan mahasiswa sebagai aktor intelektual dalam setiap perubahan sosial.

Bahkan menurut Anwar (1981), sudah menjadi truisme bahwa gerakan protes mahasiswa, terutama di Dunia Ketiga, memainkan peranan sangat penting dan berposisi sentral dalam percaturan politik. Maka tak heran, para penguasa tidak bisa mengabaikan posisi sosial serta dampak aspirasi politik mereka. Ini  kemudian menjadikan mahasiswa memiliki bargaining position yang penting dalam struktur sosial.

Sebagai insan akademis mahasiswa memiliki potensi kekuatan fikir untuk mengkritisi fenomena-fenomena sosial-politik, sehingga kemudian mereka menjadi solution maker dalam permasalahan yang berkembang.  Terlebih lagi sebagai generasi muda, mahasiswa memiliki idealisme yang  mendorong mereka untuk bergerak, melawan dan mengkritisi penguasa. Masih segar di ingatan kita bagaimana mahasiswa mampu menembus tembok kekuasaan tirani yang semena-mena terhadap rakyat. Waktu itu, kawan-kawan mahasiswa dan rakyat berdemo menuntut ditegakkannya keadilan, menuntut adanya reformasi, sampai akhirnya sang “raja” pun terjungkal dihadapan kekuatan mahasiswa, atau tengok saja peristiwa-peristiwa bersejarah seperti lahirnya Boedi Oetomo atau peristiwa Malari, semuanya tak bisa dilepaskan dari peran mahasiswa.

Maka hal diatas cukup bagi saya untuk merasa bangga menyandang status mahasiswa, walaupun pada kenyataanya  belum begitu merasakan betul tentang esensi menjadi seorang agent of change. Ungkapan-ungkapan yang mengumbar tentang kehebatan mahasiswa tidak begitu kentara ketika saya mengalaminya sendiri. Ternyata, banyak hal diluar dugaan, banyak hal yang bertentangan dengan apa yang saya pikirkan tentang mahasiswa. Ya, dengan menyandang status mahasiswa, dengan embel-embel kata “maha”, menjadikan komunitas ini terasa superior diantara golongan pelajar lainnya. Lantas, apakah superioritas mahasiswa ini menjadikan kualitasnya diatas siswa? Atau identitas sebagai mahasiswa hanya sebuah topeng kepalsuan untuk mendapat pengakuan di masyarakat?

Batin saya berontak ketika melihat banyak ketimpangan yang terjadi. ketika kita melihat gaya hidup kebanyakan mahasiswa yang tidak mencerminkan cita rasa intelektualitasnya, menjadikan status mahasiswa sebagai topeng untuk menutupi kelemahan diri, atau sekedar  mendapat pengakuan sebagai  golongan berpendidikan, atau mungkin saja sebagai pelarian atas realitas hidup yang membingungkan, dengan kata lain, dari pada nganggur, mending kuliah saja, supaya dapat “beasiswa” dari orang tua.

Apakah masa-masa kejayaan mahasiswa telah berlalu, sehingga yang terjadi kemudian adalah merajalelanya hedonisme diiringi memudarnya budaya berpikir kritis, atau mungkinkah mahasiswa kehilangann arah, tentang apa yang harus diperbuat, atau bisa jadi menjadi korban zaman dengan merebaknya budaya serba instan, yang melenakan kita.

Budaya instan telah membuat kita malas berpikir tentang apa itu arti kerja keras, tentang apa itu hak kekayaan intelektual, sehingga kita merasa tidak berdosa ketika menjiplak artikel di internet, dan mengklaim bahwa itu hasil diri sendiri.  Tentunya masih segar di ingatan kita, seorang mahasiswa pascasarjana di sebuah Institut terkenal, menjiplak jurnal ilmiah karya orang lain, dan lucuya itu terjadi pada universitas kaliber dunia. Sungguh menggelikan!

Kalau sudah begini,  Quo Vadis Mahasiswa Indonesia ?

Banyubiru, Friday, June 04, 2010