01.00 Wib di Sebuah Rumah Sakit
Ini terjadi ketika aku sedang menjaga nenekku yang di rawat di rumah sakit. Saat itu terdengar suara gaduh yang membangunkanku dari tidurku, aku meraba-raba apakah aku telah bermimpi, setelah bangun dan menyadari bahwa ini adalah jam 01.00 dini hari aku segera menyadari suara gaduh dari kamar sebelah. Aku mengalahkan rasa kantukku untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Setengah sadar setengah tidak aku melihat kerumunan orang sedang berkumpul, penasaran aku mendekati kerumunan orang tersebut, dan ternyata mereka sedang mentalkinkan orang yang sedang sekarat, aku terpana melihat orang sekarat itu, begitu susah payah dia untuk bernafas, duduk pun dia lemah, terlentang dia tak bisa, akhirya dia hanya di peluk oleh keluarganya dan dibisikkan kalimat syahadat. Mungkin keluarganya sudah menyadari bahwa Ijrail telah datang.
Aku masih saja terdiam di tempat, melihat apa yang akan terjadi. Sesaat kemudian aku melihat tanda bahwa Ijrail sedang mencabut nyawa, sakit kelihatannya karena dia sempat memukulkan kedua tangannya ke atas, dan akhirnya hanya tangis dan jeritan yang kemudian terdengar di tengah kesunyian malam.
Aku terpana melihat apa yang sedang aku saksikan ini, aku jadi semakin takut akan usiaku yang aku tak tau kapan aku akan dijemput oleh Ijrail. Aku merasa aku belum siap untuk menghadapinya, masih telalu jauh aku dari seorang Muslim yang taqwa. Ah, Allah… aku ingin jika engkau menjemputku nanti, terukir senyum dalam perjalananku nanti. Amin.
Kawan, kita boleh merasa banyak waktu untuk menghabiskan seluruh sisa hidup kita, kita boleh merasa bahwa kematian masih jauuh di depan mata kita, ya bisa saja kita merasa seperti itu, tapi…. bagaimana kalau takdir kita berkata lain, misalnya kita mati di usia yang muda, kita tak sempat mengumpulkan bekal untuk akhirat nanti, apa yang akan terjadi nanti di akhirat? Lalu apa jadinya ketika masih banyak orang yang kita sakiti tak sempat kita memintya maaf kepada mereka. Apakah kita masih merasa bahwa kematian masih jauh dari kita? Kawan, cobalah pikir, ketika kita sedang dalam masa bahagia dalam hidup, tiba-tiba kamu menderita penyakit ganas yang terus menggerogoti, sampai dokter memvonis bahwa umur kita hanya satu bulan lagi? Bayangkan kalo kita di posisi seperti itu? Apakah kita masih bisa merasa bahwa hidup kita seribu tahun lagi>?