AKU DALAM VERSI KEAKUANKU : ANTARA MALAM & PERPUSTAKAAN

“Bahwa menulis adalah menciptakan kata-kata magis yang sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian kita pada suatu fakta”

Aku terus mencari kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan Aku dalam versi keakuanku. Kata yang pertama adalah MALAM. Ya, MALAM menjadi situasi favorit bagiku. Saat tiada daya untuk melangkahkan kaki lagi. Hanya bisa diam, menatap layar komputer, menekan tuts keyboard dan membuat pikiranku liar, membimbingku menuliskan sesuatu untuk menumpuk data beberapa kilobyte memenuhi kapasitas hardisk. Hampir setiap hari.

Lagipula MALAM bagiku adalah situasi yang nyaman untuk : berfikir. Menulis atau sekali-kali menikmati senandung syahdu lantunan murottal Al-Ghamadi. Mengingat dan menghitung dosa. Berharap bisa menikmati tangisan di atas sajadah cinta. Dengan tanpa rasa malu meminta dan meminta lagi, dan berulangkali pula aku melakukan kesalahan. Dosa itu lagi. Aku merasa tersindir dengan syair lagu :

selalu ku sesali dosa, dan selalu ku ulang kembali.
dan Kau masih memberi kebahagiaan.
Ku bukan hamba pilihan…..

MALAM juga selalu menjadi saksiku terciptanya beberapa paragraph deskripsi. Meski hanya semacam racauan tulisan, dan seringnya aku diam sesaat kemudian setelah itu. Dilanjutkan dengan melamun. Sesaat kemudian sepi. Dan menggoyangkan jari-jariku kembali.

Atau representasi kata yang kedua adalah PERPUSTAKAAN, sebuah tempat paling “nyaman”dikampusku untuk merenung. Aku ingat, hari-hari sebelumya aku selalu membawa benda kesayanganku ke perpustakaan. Bergegas menuju lantai dua. Menuju kursi favoritku. Celingukan sebentar, mengambil sebuah buku, yang aku ambil sebagai “penyamaran’ agar aku terlihat seperti menulis referensi. Padahal aku sedang asyik “bertelur” ide yang berhari-hari tertimbun dalam otak. Dan beberapa menit kemudian otak kananku bekerja untuk berimajinasi dan berkoordinasi dengan saraf motorik untuk mengetikkan sesuatu.

Setiap ada kesempatan aku gunakan untuk mengejakulasikan ideku disana, aku tak tau, sejak beberapa minggu terakhir otakku ini memaksaku untuk terus mengeluarkan isinya. Aku jadi kelimpungan, terpaksa (dan belakangan aku menikmatinya) harus memenuhi hasrat untuk menyalurkan gairahku untuk menulis. Belakangan aku menyadari bahwa, menulis adalah sebuah kebutuhan. Seperti makan. Seperti minum. Seperti mandi, mungkin juga seperti tidur (ini kegiatan favorit teman-temanku di asrama), atau apalah itu. Aku cuma ingin menegaskan bahwa ilmu tak cukup untuk disimpan sendiri, tapi tulislah, biarlah manfaatnya mengalir jika memang bermanfaat. Masih lebih baik menjadi sebuah tulisan sampah dalam harddisk daripada disimpan dalam otak saja. Tak berguna. Meski dikeluarkan dengan kata-kata dimulut, efek rembesannya tak seberapa.

Aku mulai tak perdulikan apa yang akan kalian atau mereka katakan. Yang jelas aku menikmati kebiasaan ini, kebiasaan yang belakangan aku sadari, perlu kerja otak ekstra untuk menulis sebuah pragraph saja. Dan kebiasaan baruku ini menyadarkan aku akan suatu hal, MEMBACA. Membaca kehidupan, membaca karakter, membaca alam. Ini menjadikan aku sibuk dalam setiap lamunanku, atau setiap aku memandang langit, pohon, wanita cantik, pengemis, pedagang, nenek-nenek . Aku menyandu untuk mengamati simbol-simbol dalam setiap gerakan, lambaian pohon atau setiap hela nafas. Aku semakin mencandu lagi untuk terus memperhatikan simbol-simbol itu, lalu menerjemahkannya kedalam kata. Aku pikir, getaran-getaran udara mengandung simbol, siulan angin juga. Atau setiap bunyi. Gemericik air, dan gerak lagkah manusia di sekitarku.

Tasikmalaya, 11 June 2010, 21 : 39

kawan-kawan : ketika teriakkan tidak lagi di dengar, maka menulislah!