Sehari 500 Kata

Ada nuansa tersendiri yang hadir, ketika saya (untuk kesekian kalinya) terkenang masa anak-anak yang penuh dengan keindahan, disertai dengan keluguan dan kepolosan tingkah. Tak ada beban pikiran menjemukan, apalagi masalah yang seringkali membuat dahi bekerut berlipat-lipat. Oh INdahnya!

Pada akhirnya, setelah sibuk dan agak lelah dengan aktifitas di siang hari, saya harus menyempatkan diri untuk setidaknya menulis 500 kata dalam sehari. Ritual yang saya ciptakan sekadar sebagai latihan untuk terus mengasah sense menulis. Ini tidak lain menjadi semacam ritual rutin, yang kadang menjemukan, tapi nikmat. Meski berulangkali menulis hal-hal yang absurd dan tidak serta merta dipahami secara utuh apa yang saya tuliskan, bahkan oleh saya sendiri.

Entah apa yang mendorong saya untuk menuliskan sebanyak 500 kata dalam setiap malam. Ada semacam dorongan, entah itu panggilan alam, atau semacam jam biologis yang sadar atau tidak sadar membuat jari saya terus menerus diatas keyboard. Dalam hal ini saya tidak sepenuhnya menyadari kegiatan menulis ini telah menelurkan beberapa kilobyte data, setelah dihitung-hitung, ternyata ini kali ke-64 saya menuliskan sesuatu yang kadang saya menyebutnya sebagai tulisan sampah yang (mungkin) suatu saat akan berguna.

Setidaknya, apa yang berkelindan dalam batok kepala saya bisa tersalurkan dengan sempurna tanpa mengendap lalu menjadi sesuatu hal yang terkadang bikin hati ini agak tertekan. Alhamdulillah aktifitas rutin ini seringkali membuat saya yakin akan potensi diri saya ada dimana. Setidaknya mengasah potensi ini bisa memberi harapan saat kondisi setelah lulus kuliah tidak memihak pada saya, yang mungkin ketika sudah menyandang gelar sarjana sosial.

Aneh, heran dan tak menyangka jika memperhatikan jejak langkah yang telah saya lalui. Begitu banyak kejutan yang tak sempat saya kira sebelumnya. Kesedihan berganti dengan kebahagiaan. Penderitaan berganti dengan hasil yang memuaskan, dan terkadang juga kepahitan selalu menghampiri dalam setiap lipatan waktu. Ya, kita tak pernah bisa secara tepat menerka-nerka apa yang akan terjadi di esok hari.

Ada ketakutan yang entah dari mana datangnya setiap kali membayangkan tentang masa depan. Akankah harapan dan impian-impian yang selama ini tertancap dalam ingatan terealisasi dengan sempurna. Apakah kenyataannya akan benar-benar jauh dari apa yang diharapkan? Entahlah, yang jelas akan ada kejutan-kejutan tersendiri. Dan keyakinan akan rencana Tuhan yang seringkali berakhir dengan indah lagi-lagi tak pernah dikira oleh kita, mahluk serba kekurangan.

…ketika akhirnya menulis menemui kebuntuan, inilah yang saya lakukan. Menulis apa yang terlintas dalam pikiran. Tak perduli apakah serasi atau tidak. Saya semakin tidak peduli ketika akhinya menyadari bahwa proses kreatif seseorang tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh rasio. Perlu pendekatan lain untuk memahami bagaimana seseorang menghasilkan sebuah karya. Entah itu bagus atau jelek. Saya lebih menikmati membuat sesuatu itu atas dasar perintah hati, tidak ada paksaan dan inginnya mengalir begitu saja. Tak ada tekanan. Tak ada deadline, dan yang jelas ini menjadikan sebuah kepuasan yang terus menerus mendorong saya untuk terus menulis hal-hal yang kelihatannya remeh temeh.

Belum terpikir juga apakah tulisan seperti ini layak untuk dibaca oleh khalayak, takutnya ketika di publish ada semacam judge tersendiri dari saya sendiri bahwa tulisan ini jelek. Pada akhirnya pikiran negatif seperti itu perlahan saya hapus, saya pikir tak ada karya yang jelek selama itu dihasilkan dengan proses yang orisinal. Dibanding dengan karya yang serba wah dihasilkan dari hasil menjarah intelektual orang lain.

7/12/2010 9:57:57 PM

Tips Menullis ala Miftah Nashir

Saya ingin menulis karena saya ingin dikenal oleh banyak orang, dengan menulis juga saya bisa beraktualisasi diri, menunjukkan kepada semua orang bahwa inilah saya. Dengan menulis juga, kita dituntut untuk mengerahkan segala pemikiran kita. Dalam rangka menulis, kita dituntut untuk lebih banyak membaca, dituntut untuk lebih banyak berpikir.

Maka, dengan kegiatan menulis, kita dirangsang untuk melakukan kegiatan positif lainnya. Ya, meskipun kegiatan menulis dirasakan susah untuk orang yang belum terbiasa, tapi jika dilakukan dengan menyenangkan dan tanpa beban, menulis seolah aktifitas yang tak akan terlepas dari aktifitas kita sehari-hari.

Untuk mendapatkan ide. Banyak sebenarnya ide itu, hanya saja kita harus jeli melihat ide. Ide berserakan di jalan-jalan, kampus, pasar ataupun disebuah pesantren. Hanya saja, perlu keterampilan khusus dalam membaca situasi social yang terjadi dimasyarakat, nah disinilah kepekaan terhadap permasalahan yang ada di lingkungan dibutuhkan. Apa yang sedang terjadi dimasyarakat, apakah ada masalah, kalau memang iya, lantas apa solusinya dalam menyelesaikan masalah tersebut. Dengan pemikiran sederhana seperti itu, sebenarnya sudah cukup untuk dijadikan sebuah artikel.

Dan yang terpenting dalam mengasah kemampuan menulis adalah langsung terjun menulis, tanpa takut salah ataupun jelek tulisan kita. Yang penting tulis, tulis dan tulis, soal benar atau salah penulisannya itu urusan nanti, tokh tidak aka nada yang menyalahkan tulisan anda ?

Hal yang perlu diperhatikan juga adalah pemilihan waktu biologismu untuk menulis, apakah malam hari, subuh hari, atau sore hari. Kenapa ini penting, karena tiap orang cenderung berbeda jam biologis mereka, biasanya ada orang yang merasa pikirannya fresh ketika subuh hari ataupun sore hari.

Nah, temukan jam biologismu yang cocok untuk menulis sesuatu.
dan seterusnya adalah menulis, menulis, menulis!

Bung Karno “Penyelundup” (?)

Mungkin judul diatas agak provokatif, tapi tenang dulu… saya hanya ingin mengupas sisi unik dari sang proklamator. Saya terharu membaca kisah beliau ketika dipenjara di Sukamiskin, baginya penjara bukanlah halangan bagi beliau untuk terus membaca, meski pemerintah Belanda saat itu, melarang keras Soekarno untuk membaca buku. Namun berkat jasa seorang sipir penjara akhirnya beliau bisa membaca buku diam-diam dengan cara “menyelundupkan” buku. Ini menggambarkan betapa gigihnya seorang Soekarno untuk mendapatkan ilmu, ketika di penjara sekalipun.

Keadaan diatas, kontras sekali dengan kebanyakan mahasiswa zaman kiwari. Bergerombol kesana kemari dengan dandanan serba wah. Berlomba menonjolkan rasa keakuannya sebagai mahluk paling trendy. Sementara itu, buku-buku di perpustkaan seakan menjadi hiasan rak dan barang usang yang tak tersentuh. Sehinga istilah perpustakaan ibarat tokek hampir menjadi sebuah kenyataan. Kenyataan pahit yang menempatkan perpustakaan sebagai tempat paling langka untuk dikunjungi. Miris sekali.

Sebagai insan intelektual, membaca buku atau setidaknya mengunjungi perpustakaan haruslah menjadi kebiasaan dan rutinitas. Tidak perlu didorong dan dikompori oleh dosen untuk membaca buku anu dan itu, juga tak indah rasanya jika seorang mahasiswa tidak membaca satu halaman buku pun dalam satu hari. Memalukan dan sekaligus memprihatinkan. Idealnya membaca buku menjadi semacam menu harian bagi seorang mahasiswa.

Persoalan lain yang cukup pelik adalah minimnya dukungan pemerintah dalam “pembudidayaan” minat baca masyarakat, terkhusus mahasiswa. Tidak adanya program buku murah, pemotongan pajak buku, atau harga khusus bagi pengiriman buku lewat pos menjadi persoalan yang menghambat budaya baca masyarakat Indonesia.

Saya kira, program buku murah atau gratis (kalau bisa) untuk siswa dan mahasiswa bukanlah hal muluk dan melangit. Bisa jadi hal ini menjadi terobosan baru dan spektakuler untuk memajukan pendidikan Indonesia sehingga kita tak perlu lagi malu dengan prestasi pendidikan Indonesia yang hingga kini masih carut-marut. Semoga.

Bagaimana menurut anda ?

Tasikmalaya, 6/28/2010 2:15:40 PM