Sekedar Berfikir Tentang Penyelesaian KORUPSI

Dewasa ini, permasalahan bangsa Indonesia menjadi semakin kompleks, mulai dari masalah ekonomi, kemanusiaan, bencana alam, bahkan yang sedang marak-maraknya terjadi adalah masalah hukum yang berkaitan dengan maraknya korupsi di Indonesia. Berbicara tentang hukum di Indonesia menjadi menarik, hal ini dikarenakan banyaknya permasalahan hukum yang menjerat para petinggi negeri. Mulai dari kasus Bank Century, sampai kasus yang terbaru yaitu kasus Wisma Atlit yang melibatkan banyak melibatkan para pejabat di negeri ini. Ada yang bilang bahwa permasalahan hukum dinegeri ini, khususnya dalam bidang pemberantasan korupsi adalah pemberantasan yang bersifat tebang-pilih. Ini kemdian menjadi sebuah adagium bahwa hukum di Indonesia hanya berpihak pada yang mempunyai uang, yang berarti hukum bisa dibeli dengan uang. Dalam tataran sehari-hari, kesalahan hukum yang terjadi dimasyarakat masih bisa diselesaikan dengan rasa kekeluargaan, meski sebenarnya hal tersebut bisa diselesaikan secara hukum. Barangkali menjadi karakter bangsa Indonesia yang mempunyai karakter memaafkan. Apakah ini baik dan buruk? Ya, disatu sisi ini memang baik jika diterapkan pada situasi yang tepat. Namun, bisa jadi menjadi suatu hal yang buruk jika diterapkan pada situasi tertentu. Sejatinya, permasahalan hukum adalah berbicara tentang benar dan salah, hitam diatas putih. Yang benar, ya benar yang salah ya salah, tak ada yang namanya pemaafan atas nama kekeluargaan. Namun, inilah Indonesia suatu negeri yang penduduknya dikenal ramah tamah, sehingga masalah hukum masih bisa diselesaikan dengan atas nama kekeluargaan. Solusi Permasalahan Jikalau berbicara solusi permasalahan, saya kira terlalu banyak masalah yang perlu diselesaikan, namun kiranya tidak salah jika saya mencoba untuk memberi solusi. Yang akan saya fokuskan adalah solusi tentang permasalahan penegakkan hukum di Indonesia. Berlatar belakang dari banyaknya pelanggaran hukum di Indonesia, mulai dair pejabat RT sampai setingkat menteri selalu saja ada permasalahan yang menyangkut hukum. Ya, dengan demkian ada sebenarnya dengan mental masyarakat Indonesia? Menurut hemat saya, yang harus diperbaiki adalah mental bangsa Indonesia yang tidak sadar hukum. Barangkali banyak orang Indonesia yang pintar dalam masalah hukum, namun hal tersebut bukan menjadi jaminan bahwa mereka sadar akan penerapan hukum. Ibaratnya, yang ngerti tentang hukum malah mencari jalan untuk menghindar dari hukum. Jadi, mulai dari manakah perbaikan mental yang sudah membudaya ini? Hemat saya, yang dalam rangka restorasi mental bangsa Indonesia yang sudah sedemikian parah ini tidak lain adalah dengan pendidikan. Pendidikan yang seperti apa? Pendidikan yang berbasis Islam yang mengajarkan akan ahlakul karimah, dan yang terpenting adalah pendidikan yang berwawasan Alqur’an dan Sunnah. Selain itu, harus ditekankan dalam sistem pendidikan adalah pendidikan anti korupsi yang berwawasan aksi. Pendidikan antikorupsi mesti diterapkan di setiap jenjang pendidikan, mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Hal ini merupakan upaya bahwa perilaku korup merupakan perilaku yang memalukan dan harus dijauhi. Hal ini menimbulkan kesan kepada koruptor, bahwa mereka merupakan manusia yang terhina. Sebisa mungkin dalam pendidikan kita dikesankan bahwa perilaku korupsi, skala kecil maupun besar merupakan perbuatan yang tercela. Sehingga dengan demikian, ketika berada dilingkungannya dan melakukan perilaku korupsi, maka dengan sendirinya lingkungannya akan mengasingkan orang yang berperilaku tersebut. Pada akhirnya, perubahan sistem pendidikan merupakan political will dari pemerintah itu sendiri, apakah berniat merubaha keadaan atau tidak. Nampaknya jika pemerintah merasa nyaman dan merasa tidak perlu untuk melakukan revolusi pendidikan, maka perlu diadakan gerakan massif untuk bersama-sama memperbaiki sitem pendidikan di Indonesia. Semoga.

Membeli Waktu

Tidak ada yang istimewa pagi ini, sama seperti pagi yang dahulu. Menjalani rutinitas pagi dan ini itu. Terkadang membuat diri ini terasa biasa-biasa saja. Namun, tentu saja kita bisa membuat pagi lebih berbeda dengan menulis sesuatu. Minimal mengungkapkan pemikiran kita, agar terasa lebih bermakna. Mencoba menikmati setiap detak waktu dengan karya terbaik, persembahan untuk dunia.

Memang, untuk menghasilkan karya terbaik mesti dilakukan dengan usaha terbaik pula. Tak ada kata kompromi untuk meraihnya. Pekerjaan yang dilakukan dengan cara yang bias, sudah bisa dipastikan akan memperoleh hasil yang biasa-biasa saja. Hukum alam pasti berlaku, man jadda wa jadda. Yang bersungguh-sungguh pasti dia akan mendapatkannya.

Teringat pada sebuah syait nasyid favorit saya, yang berjudul Terbaik yang dinyanyikan oleh Tashiru. Begini penggalana syairnya “Sesungguhanya kesungguhan adalah keberhasilan”. Selalu terngiang-ngiang syair tersebut di ingatan saya. Mendengarnya seolah memberi energi tambahan kepada saya untuk terus melakukan sesuatu dengan penuh semangat dan cinta. Saya menyadari sudah terlalu banyak waktu yang saya habiskan untuk membuang-buang waktu, dengan kesadaran penuh bahwa waktu itu sangat berharga dan tak dapat dinilai dengan uang.

Jika, ada yang bertanya, berapakah harga waktu? Seandainya anda tahu bahwa ajal anda adalah 3 bulan lagi, ditukar dengan apakah sisa waktu anda sehingga anda menjadi rela? Tentunya anda akan berpikir2 ulang untuk menukar waktu tersebut, meski dengan iming-iming apapun.

Ok, jadi sekarang kita menyadari  fakta tak terbantahkan bahwa waktu itu adalah sangat berharga. Saking berharganya kita tidak bisa menggantinya dengan materi. Dan memang tidak bisa digantikan dengan materi.

Sehingga, tak heran jika Allah Swt bersumpah atas waktu. Demi waktu! Sesungguhnya manusia ada dalam kerugian. Ini menggambarkan betapa ruginya manusia jika tidak menggunakan waktu yang telah dimiliki. Sepenuhnya kita yakin bahwa setiap detik yang berdetak itu adalah proses pengurangan jatah usia kita didunia. Maka, betapa ruginya jika jatah waktu yang diberikan oleh Allah SWT kita sia-siakan dengan perbuatan-perbuatan yang sia-sia.

Sejatinya, kesadaran akan pentingnya waktu membawa kita untuk terus menerus memanfaatkan waktu dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Tentu saja dengan mengerahkan segala kemampuan dan mengerahkan segala kualitas yang kita miliki. Pada intinya, all out adalah harga mati untuk setiap aktifitas. Komitmen 100% menjadi sebuah prinsip yang tak bisa ditawar2 lagi untuk menjemput mimpi dan meraih kesuksesan.

Sudah menjadi mafhum, bahwa meraih kesuksesan dan meraih mimpi berarti menantang berbagai masalah dan rintangan. Ya, memang sudah menjadi sunnatullah jika ingin mencapai sesuatu maka harus berusaha sekuat mungkin. Tak ada yang gratis di dunia, semua perlu dibayar dengan harta dan komitmen 100 % yang seringkali membuat kita patuh untuk menjalaninya.

Pada akhirnya, kita tidak bisa menambah dan menunda jatah usia kita, selama masih mempunyai waktu dan kesempatan selama itulah kita bisa memberikan karya terbaik untuk dunia dan akhirat. Sehingga ketika seandainya diakhirat ditanya, karya terbaik apa yang telah engkau persembahkan? Maka,kita akan menjawab dengan tenang dan bangga tentang keberhasilan kita didunia.

Mulai sekarang dan seterusnya, lebih bijak lagi jika dalam setiap lipatan waktu kita menghadirkan Allah dalam setiap nafas dan linatasan pikiran. Karena sejatinya, Dia lah yang memberikan usia kepada dan Dialah yang telah menghidupkan kita di dunia.

Arti Sebuah Karya

Berbicara tentang menghasilkan sebuah karya,  berarti membicarakan tentang tantangan. Justru ketika memutuskan untuk berkarya, entah itu membuat buku ataupun yang lainnya maka sebenarnya kita sedang menantang diri untuk menghadapi berbagai masalah yang kerap muncul. Hal ini wajar saja dan kerap terjadi pada para penulis pemula yang kerap tidak fokus untuk menuangkan gagasannya. Ya. Contohnya seperti saya ini yang belum kelar-kelar juga menyelesaikan sebuah buku, padahal outline dan berbagi media yang mendukungnya telah ada dihadapan mata.

Saya berfikir, apakah ini disebabkan oleh mindset? Mindset bahwa mengerjakan sebuah karya harus memakan waktu yang lama, harus memakan waktu berbulan-bulan. Pertanyaannya kemudian,disatu sisi banyak orang yang mampu menelurkan karya hanya dalam hitungan minggu, atau bahkan hitungan hari. Meski dengan waktu yang singkat mereka bisa membuktikan bahwa karya mereka memang patut diperhitungkan sebagai sebuah karya. Bahkan beberapa diantaranya banyak yang telah membuktikan bahwa karya yang dikerjakan dengan cepat malah menjadi produk best seller dan diminati oleh masyarakat. Berbicara tentang membuat buku, memang tidaklah sederhana yang dibayangkan. Dan juga tidak begitu sulit untuk dilakukan. Bisa jadi pola pikir kita yang memandang sesuatu menjadi penghambat kenapa hidup kita biasa-biasa saja atau kenapa kualitas kita tidak begitu diperhitungkan oleh orang lain.

Satu lagi yang bisa menjadi virus adalah cepat puas sesaat setelah menyelesaikan karya. Padahal, merasa puas diawal justru menjadi pelemah untuk terus melangkahkan kaki. Bukannya kita dituntut untuk serba sempurna, karena tak ada juga yang sempurna di dunia ini. Yang terpenting didalam membuat karya adalah lakukan yang tebaik dan kerahkan segala kemampuan yang kita punya. Jangan kemudian melakukan sesuatu hal dengan setengah-setengah atau melakukan sesuatu serba tidak beres.

Keyakinan kita jugalah yang pada akhirnya membawa kita pada apa yang kita inginkan suatu hari nanti. Pernahkah kita melihat seseorang yang telah sukses? Mungkin seringkali kita melihat dia setelah dia sukses, lalu pertanyaannya adalah apakah kita sering bertanya bagaiamana keadaan dia sebelum dia meraih kesuksesannya? Saya yakin, rata-rata orang sukses mencapai kesuksesannya dengan susah payah dan perjuangan yang keras. No Pain, No gain. Berakit-rakit dahulu berenang-renangkemudian, bersakit=sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Begitulah peribahasa mengatakan. Peribahasa tersebut seolah mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis, semua butuh proses dan usaha. Dan sekali lagi, tak ada makan siang gratis, semua perlu dibayar harganya barulah kita bisa meraih hasilnya.

Saya tak bisa membayangkan, jika akhirnya seorang Thomas Alpha Edison berhenti pada beberapa percobaan untuk menemukan lampu. Seandainya dia berhenti pada percobaan yang kesekiankalinya, mungkinkah lampu dapat ditemukan?

Menulis sebagai panggilan jiwa?

Serasa klise menuliskannya.  Menuliskan sesuatu harus merupakan suatu panggilan jiwa,  hehe. Saya sekarang baru menyadari bahwa saya tipe penulis yang tak focus pada tulisannya, beberapa kali menulis saya selalu ngaco dan tak keruan,dan kecenderungannya untuk selalu membicarakan diri sendiri. Kenapa pula untuk membicarakan persoalan orang lain agar terasah rasa peduli terhadap orang lain.

Meski, memang terkadang untuk memulai sesuatu yang telah lama ditinggalkan terselip rasa keengganan, barangkali dalam hal ini kawan-kawan pernah mengalami hal ini, saya tidak tau bagaimana persisnya yang jelas semua hal yang menjadi sebuah kebiasaan baik selalu saja berakhir dengan akhir yang tak begitu menyenangkan.

Contohnya aja dengan kegiatan menulis, ada beberapa pikiran liar yang hendak dituliskan namun mendadak buyar karena ketiadaan kemampuan focus untuk menulis, meski hanya menulis sekedar catatan biasa di facebook. Ya, perlu dimaklumi juga untuk penulis pemula, istilah ini terkadang saya terapkan kepada diri saya karena masih belum juga menelurkan buku. Ah, saying sekali.

Belum mampu bukan berarti tak mampu. Cukup dipahami bahwa setiap orang mempunyai proses uniknya masing-masing untuk menunjukkan karya-nya. Meski kadang, proses yang dijalani tak sepenuhnya dipahami oleh setiap orang. Memang unik sih proses kreatif seeorang, dan saya yakin jika proses kreatif itu dimunculkan oleh sesuatunya. Nah, ini kemudian yang menjadi perhatian menarik yaitu “bagaimana sih proses kreatif itu muncul?”. Jawaban dari pertanyaan ini bisa jadi menjadi beragam mengingat isi kepala dan ide-ide setiap manusia dijagad ini berbeda.

Ide atau gagasan ter ejewantah dalam bentuk karya. Atau katakanlah karya adalah bentuk ke-akuan seseorang. Sederhananya karya menunjukkan eksistensi seseorang, kalau Rene Descartes Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada, maka dalam konteks ini, berkarya maka aku ada.

Sebagai bahan refleksi, bahwa membuat karya berarti membuat sejarah tentang hidup kita. Sejatinya,  kita sendiri yang memilih mau seperti apa sejarah tentang kita ditulis, apakah hanya sebatas beberapa baris tulisan di batu nisan atau menjadi perbincangan dan sumber pencerahan bagi manusia yang pernah mengenal kita atau generasi setelahnya. Berkarya menjadi semacam bukti bahwa diri pernah mengisi ruang bumi atau setidaknya menjadi saksi bahwa keberadaan diri menjadi

Berkarya merupakan titik dimana kita bisa menembus batas yang dibuat diri kita sendiri.

Berapa Harga Sebuah Komitmen?

Mengerjakan sebuah komitmen itu perlu kesabaran ekstra, ya perlu ada ingatan yang terus menerus untuk mengingatkan pikiran kita bahwa kita mempunyai komitmen terhadap sesuatu.

Ketika komitmen itu terwujud, maka hal yang akan dituai adalah hasil yang diharapkan. Saa kini menjadi paham bahwa komitmen terhadap apapun menjadikan kita semakin berdaya terhadap sesautu tersebut, tejkanan dari luar seharusny menjadikan kita semakin kuat..

Kembali pada komitmen, ibaratnya sebuah tali untuk menggantungkan sesuatu ke atas bukit tebing yang tinggi, jika tali itu tidak diikat dengan kuat maka tali tersebut akan cenderung untuk roboh dan apa yang akan terjadi. Itu akan membahayakan penggunanya.

Tentu saja, berkomitmen pada diri sendiri sama halnya membuat janji kepada diri sendiri. Ketika janji itu tidak tepenuhi oleh diri sendiri maka hal tersebut akan menarikkan rekening kepercayaan diri di bank kepribadian. Maka, selayaknyalah kita berhati-hati untuk berjanji kepada diri sendiri karena ketika janji itu tidak diindahkan, maka kepercyaan terhadap diri sendiri sedikit demi sedikit terkikis dan akhirnya menyebabkan diri kita tidak berdaya.

Adalah bagus jika kemudian diri ini terus menerus mensugestikan bahwa diri ini mesti selalu menepati kepada diri sendiri. Untuk mensiasati hal ini kita bisa menentukan hal apa yang bisa kita berikan kepada diri sendiri, jika telah terpenuhi komitmennya. Atau sebaliknya, apa seharusnya yang harus diberi sanksi kepada diri sendiri jika diri kita tidak menepati komitmennya. Sekali lagi, komitmen adalah harga penting dari sebuah pencapaian. Pencapaian terhadap apapun.

Kenyataannya untuk mewujudkan komitmen tersebut memang tidak semudah membalik telapak tangan. Seringnya alam bawah sadar kita membisikkan sesuatu untuk melakukan sesuatu diluar komitmen yang telah ditetapkan. Bila demikian yang tejadi, maka jalannya adalah dengan mempengaruhi pikiran bawah sadar kita agar sesuai dengan tujuan dan komitmen yang telah diciptakan.

Misalnya, menulis. Kita berkomitmen untuk menulis minimal 15 menit sehari,. Tapi ketika satu hari saja dilewatkan, maka pikiran kitapun akan terus menerus mentolerir bahwa meninggalnya tidak akan menjadi hal yang besar. Beda lagi ketika pikiran bawah sadar kita mengidentifikasi bahwa pelencengan terhadap komitmen merupakan sebuah pelanggaran yang besar, maka hal tersebut akan kemudian diperhatikan sebagai sesuatu yang penting.

Komitmen, memang harga mati untuk sebuah kesuksesan. Komitmen tidak bisa dibayar harganya. Komitmen tidak bisa diuangkan dan komitmen bisa kita ciptakan sendiri dengan memastikan diri sendiri bahwa apa yang dilakukan merupakan yang tebaik yang kita berikan. Semoga bermanfaat.