Menulis sebagai panggilan jiwa?

Serasa klise menuliskannya.  Menuliskan sesuatu harus merupakan suatu panggilan jiwa,  hehe. Saya sekarang baru menyadari bahwa saya tipe penulis yang tak focus pada tulisannya, beberapa kali menulis saya selalu ngaco dan tak keruan,dan kecenderungannya untuk selalu membicarakan diri sendiri. Kenapa pula untuk membicarakan persoalan orang lain agar terasah rasa peduli terhadap orang lain.

Meski, memang terkadang untuk memulai sesuatu yang telah lama ditinggalkan terselip rasa keengganan, barangkali dalam hal ini kawan-kawan pernah mengalami hal ini, saya tidak tau bagaimana persisnya yang jelas semua hal yang menjadi sebuah kebiasaan baik selalu saja berakhir dengan akhir yang tak begitu menyenangkan.

Contohnya aja dengan kegiatan menulis, ada beberapa pikiran liar yang hendak dituliskan namun mendadak buyar karena ketiadaan kemampuan focus untuk menulis, meski hanya menulis sekedar catatan biasa di facebook. Ya, perlu dimaklumi juga untuk penulis pemula, istilah ini terkadang saya terapkan kepada diri saya karena masih belum juga menelurkan buku. Ah, saying sekali.

Belum mampu bukan berarti tak mampu. Cukup dipahami bahwa setiap orang mempunyai proses uniknya masing-masing untuk menunjukkan karya-nya. Meski kadang, proses yang dijalani tak sepenuhnya dipahami oleh setiap orang. Memang unik sih proses kreatif seeorang, dan saya yakin jika proses kreatif itu dimunculkan oleh sesuatunya. Nah, ini kemudian yang menjadi perhatian menarik yaitu “bagaimana sih proses kreatif itu muncul?”. Jawaban dari pertanyaan ini bisa jadi menjadi beragam mengingat isi kepala dan ide-ide setiap manusia dijagad ini berbeda.

Ide atau gagasan ter ejewantah dalam bentuk karya. Atau katakanlah karya adalah bentuk ke-akuan seseorang. Sederhananya karya menunjukkan eksistensi seseorang, kalau Rene Descartes Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada, maka dalam konteks ini, berkarya maka aku ada.

Sebagai bahan refleksi, bahwa membuat karya berarti membuat sejarah tentang hidup kita. Sejatinya,  kita sendiri yang memilih mau seperti apa sejarah tentang kita ditulis, apakah hanya sebatas beberapa baris tulisan di batu nisan atau menjadi perbincangan dan sumber pencerahan bagi manusia yang pernah mengenal kita atau generasi setelahnya. Berkarya menjadi semacam bukti bahwa diri pernah mengisi ruang bumi atau setidaknya menjadi saksi bahwa keberadaan diri menjadi

Berkarya merupakan titik dimana kita bisa menembus batas yang dibuat diri kita sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s