Dewasa ini, permasalahan bangsa Indonesia menjadi semakin kompleks, mulai dari masalah ekonomi, kemanusiaan, bencana alam, bahkan yang sedang marak-maraknya terjadi adalah masalah hukum yang berkaitan dengan maraknya korupsi di Indonesia. Berbicara tentang hukum di Indonesia menjadi menarik, hal ini dikarenakan banyaknya permasalahan hukum yang menjerat para petinggi negeri. Mulai dari kasus Bank Century, sampai kasus yang terbaru yaitu kasus Wisma Atlit yang melibatkan banyak melibatkan para pejabat di negeri ini. Ada yang bilang bahwa permasalahan hukum dinegeri ini, khususnya dalam bidang pemberantasan korupsi adalah pemberantasan yang bersifat tebang-pilih. Ini kemdian menjadi sebuah adagium bahwa hukum di Indonesia hanya berpihak pada yang mempunyai uang, yang berarti hukum bisa dibeli dengan uang. Dalam tataran sehari-hari, kesalahan hukum yang terjadi dimasyarakat masih bisa diselesaikan dengan rasa kekeluargaan, meski sebenarnya hal tersebut bisa diselesaikan secara hukum. Barangkali menjadi karakter bangsa Indonesia yang mempunyai karakter memaafkan. Apakah ini baik dan buruk? Ya, disatu sisi ini memang baik jika diterapkan pada situasi yang tepat. Namun, bisa jadi menjadi suatu hal yang buruk jika diterapkan pada situasi tertentu. Sejatinya, permasahalan hukum adalah berbicara tentang benar dan salah, hitam diatas putih. Yang benar, ya benar yang salah ya salah, tak ada yang namanya pemaafan atas nama kekeluargaan. Namun, inilah Indonesia suatu negeri yang penduduknya dikenal ramah tamah, sehingga masalah hukum masih bisa diselesaikan dengan atas nama kekeluargaan. Solusi Permasalahan Jikalau berbicara solusi permasalahan, saya kira terlalu banyak masalah yang perlu diselesaikan, namun kiranya tidak salah jika saya mencoba untuk memberi solusi. Yang akan saya fokuskan adalah solusi tentang permasalahan penegakkan hukum di Indonesia. Berlatar belakang dari banyaknya pelanggaran hukum di Indonesia, mulai dair pejabat RT sampai setingkat menteri selalu saja ada permasalahan yang menyangkut hukum. Ya, dengan demkian ada sebenarnya dengan mental masyarakat Indonesia? Menurut hemat saya, yang harus diperbaiki adalah mental bangsa Indonesia yang tidak sadar hukum. Barangkali banyak orang Indonesia yang pintar dalam masalah hukum, namun hal tersebut bukan menjadi jaminan bahwa mereka sadar akan penerapan hukum. Ibaratnya, yang ngerti tentang hukum malah mencari jalan untuk menghindar dari hukum. Jadi, mulai dari manakah perbaikan mental yang sudah membudaya ini? Hemat saya, yang dalam rangka restorasi mental bangsa Indonesia yang sudah sedemikian parah ini tidak lain adalah dengan pendidikan. Pendidikan yang seperti apa? Pendidikan yang berbasis Islam yang mengajarkan akan ahlakul karimah, dan yang terpenting adalah pendidikan yang berwawasan Alqur’an dan Sunnah. Selain itu, harus ditekankan dalam sistem pendidikan adalah pendidikan anti korupsi yang berwawasan aksi. Pendidikan antikorupsi mesti diterapkan di setiap jenjang pendidikan, mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Hal ini merupakan upaya bahwa perilaku korup merupakan perilaku yang memalukan dan harus dijauhi. Hal ini menimbulkan kesan kepada koruptor, bahwa mereka merupakan manusia yang terhina. Sebisa mungkin dalam pendidikan kita dikesankan bahwa perilaku korupsi, skala kecil maupun besar merupakan perbuatan yang tercela. Sehingga dengan demikian, ketika berada dilingkungannya dan melakukan perilaku korupsi, maka dengan sendirinya lingkungannya akan mengasingkan orang yang berperilaku tersebut. Pada akhirnya, perubahan sistem pendidikan merupakan political will dari pemerintah itu sendiri, apakah berniat merubaha keadaan atau tidak. Nampaknya jika pemerintah merasa nyaman dan merasa tidak perlu untuk melakukan revolusi pendidikan, maka perlu diadakan gerakan massif untuk bersama-sama memperbaiki sitem pendidikan di Indonesia. Semoga.
Category Archives: pemikiran-nya
Arti Sebuah Karya
Berbicara tentang menghasilkan sebuah karya, berarti membicarakan tentang tantangan. Justru ketika memutuskan untuk berkarya, entah itu membuat buku ataupun yang lainnya maka sebenarnya kita sedang menantang diri untuk menghadapi berbagai masalah yang kerap muncul. Hal ini wajar saja dan kerap terjadi pada para penulis pemula yang kerap tidak fokus untuk menuangkan gagasannya. Ya. Contohnya seperti saya ini yang belum kelar-kelar juga menyelesaikan sebuah buku, padahal outline dan berbagi media yang mendukungnya telah ada dihadapan mata.
Saya berfikir, apakah ini disebabkan oleh mindset? Mindset bahwa mengerjakan sebuah karya harus memakan waktu yang lama, harus memakan waktu berbulan-bulan. Pertanyaannya kemudian,disatu sisi banyak orang yang mampu menelurkan karya hanya dalam hitungan minggu, atau bahkan hitungan hari. Meski dengan waktu yang singkat mereka bisa membuktikan bahwa karya mereka memang patut diperhitungkan sebagai sebuah karya. Bahkan beberapa diantaranya banyak yang telah membuktikan bahwa karya yang dikerjakan dengan cepat malah menjadi produk best seller dan diminati oleh masyarakat. Berbicara tentang membuat buku, memang tidaklah sederhana yang dibayangkan. Dan juga tidak begitu sulit untuk dilakukan. Bisa jadi pola pikir kita yang memandang sesuatu menjadi penghambat kenapa hidup kita biasa-biasa saja atau kenapa kualitas kita tidak begitu diperhitungkan oleh orang lain.
Satu lagi yang bisa menjadi virus adalah cepat puas sesaat setelah menyelesaikan karya. Padahal, merasa puas diawal justru menjadi pelemah untuk terus melangkahkan kaki. Bukannya kita dituntut untuk serba sempurna, karena tak ada juga yang sempurna di dunia ini. Yang terpenting didalam membuat karya adalah lakukan yang tebaik dan kerahkan segala kemampuan yang kita punya. Jangan kemudian melakukan sesuatu hal dengan setengah-setengah atau melakukan sesuatu serba tidak beres.
Keyakinan kita jugalah yang pada akhirnya membawa kita pada apa yang kita inginkan suatu hari nanti. Pernahkah kita melihat seseorang yang telah sukses? Mungkin seringkali kita melihat dia setelah dia sukses, lalu pertanyaannya adalah apakah kita sering bertanya bagaiamana keadaan dia sebelum dia meraih kesuksesannya? Saya yakin, rata-rata orang sukses mencapai kesuksesannya dengan susah payah dan perjuangan yang keras. No Pain, No gain. Berakit-rakit dahulu berenang-renangkemudian, bersakit=sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Begitulah peribahasa mengatakan. Peribahasa tersebut seolah mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis, semua butuh proses dan usaha. Dan sekali lagi, tak ada makan siang gratis, semua perlu dibayar harganya barulah kita bisa meraih hasilnya.
Saya tak bisa membayangkan, jika akhirnya seorang Thomas Alpha Edison berhenti pada beberapa percobaan untuk menemukan lampu. Seandainya dia berhenti pada percobaan yang kesekiankalinya, mungkinkah lampu dapat ditemukan?
Menulis sebagai panggilan jiwa?
Serasa klise menuliskannya. Menuliskan sesuatu harus merupakan suatu panggilan jiwa, hehe. Saya sekarang baru menyadari bahwa saya tipe penulis yang tak focus pada tulisannya, beberapa kali menulis saya selalu ngaco dan tak keruan,dan kecenderungannya untuk selalu membicarakan diri sendiri. Kenapa pula untuk membicarakan persoalan orang lain agar terasah rasa peduli terhadap orang lain.
Meski, memang terkadang untuk memulai sesuatu yang telah lama ditinggalkan terselip rasa keengganan, barangkali dalam hal ini kawan-kawan pernah mengalami hal ini, saya tidak tau bagaimana persisnya yang jelas semua hal yang menjadi sebuah kebiasaan baik selalu saja berakhir dengan akhir yang tak begitu menyenangkan.
Contohnya aja dengan kegiatan menulis, ada beberapa pikiran liar yang hendak dituliskan namun mendadak buyar karena ketiadaan kemampuan focus untuk menulis, meski hanya menulis sekedar catatan biasa di facebook. Ya, perlu dimaklumi juga untuk penulis pemula, istilah ini terkadang saya terapkan kepada diri saya karena masih belum juga menelurkan buku. Ah, saying sekali.
Belum mampu bukan berarti tak mampu. Cukup dipahami bahwa setiap orang mempunyai proses uniknya masing-masing untuk menunjukkan karya-nya. Meski kadang, proses yang dijalani tak sepenuhnya dipahami oleh setiap orang. Memang unik sih proses kreatif seeorang, dan saya yakin jika proses kreatif itu dimunculkan oleh sesuatunya. Nah, ini kemudian yang menjadi perhatian menarik yaitu “bagaimana sih proses kreatif itu muncul?”. Jawaban dari pertanyaan ini bisa jadi menjadi beragam mengingat isi kepala dan ide-ide setiap manusia dijagad ini berbeda.
Ide atau gagasan ter ejewantah dalam bentuk karya. Atau katakanlah karya adalah bentuk ke-akuan seseorang. Sederhananya karya menunjukkan eksistensi seseorang, kalau Rene Descartes Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada, maka dalam konteks ini, berkarya maka aku ada.
Sebagai bahan refleksi, bahwa membuat karya berarti membuat sejarah tentang hidup kita. Sejatinya, kita sendiri yang memilih mau seperti apa sejarah tentang kita ditulis, apakah hanya sebatas beberapa baris tulisan di batu nisan atau menjadi perbincangan dan sumber pencerahan bagi manusia yang pernah mengenal kita atau generasi setelahnya. Berkarya menjadi semacam bukti bahwa diri pernah mengisi ruang bumi atau setidaknya menjadi saksi bahwa keberadaan diri menjadi
Berkarya merupakan titik dimana kita bisa menembus batas yang dibuat diri kita sendiri.
Menggagas Profesionalitas Juru Dakwah
Oleh : Miftah Nashir
Dewasa ini permasalahan ummat Islam semakin kompleks dan multidimensional, tidak hanya masalah moral, ibadah ataupun aqidah tetapi juga menyangkut masalah ekonomi, sosial,budaya bahkan politik. Tentu saja ini menjadi persoalan tersendiri bagi para aktifis dakwah dan menuntut pemecahan yang tidak sederhana. Maka dalam hal ini dai sebagai agent of change dituntut melakukan terobosan dan inovasi dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Dakwah Sebagai Aktifitas Profesional
Melihat fenomena tersebut, perlu adanya protokol yang jelas (baca : standardisasi profesi) dalam aktifitas dakwah yang dapat menjadikan para juru dakwah lebih bertanggungjawab, peka, tanggap dan inovatif dalam penyampaian dakwahnya. Perlu upaya komprehensif agar tujuan dakwah tercapai, sehinnga pesan dakwah tidak hanya sampai pada tahap penghayatan tetapi juga pada taraf aplikasi. Dalam hal inillah dai dituntut professional. Lantas, bagaimanakah dai yang profesioal itu?
Menjawab fenomena ini, muncul gagasan untuk menjadikan aktifitas dakwah menjadi aktifitas profesional yang serta merta menjadikan subjeknya menjadi seorang profesional. Tentu saja upaya menjadikan dai sebagai profesi ini bukan upaya bagaimana mencari penghidupan dari kegiatan dakwah. Hanya saja dalam penerapannya perlu difahami bahwa profesionalitas juru dakwah bukan untuk melegitimasi atau formalisasi juru dakwah sebagai lahan pekerjaan untuk mencari penghidupan an sich, namun sebagai upaya peningkatan kualitas dakwah, sehingga kemudian kegiatan dakwah menjadi rapih, terorganisir dan akuntabel. Ekses positifnya adalah target dan tujuan dakwah tercapai pada sasaran dan target yang tepat.
Kriteria Profesionalitas Dai
Profesional adalah orang yang menyandang suatu jabatan atau pekerjaan yang dilakukan dengan keahlian atau keterampilan yang tinggi, secara otomatis ini berpengaruh terhadap penampilan atau performance orang tersebut dalam menjalankan profesinya. Maka da’i yang professional setidaknya dituntut memiliki tiga 3 kriteria profesi yaitu: knowledge, skill, experience. Dalam pengertian yang lebih luas dai dituntut memiliki pengetahuan mumpuni tentang profesinya, kemampuan yang berkaitan dengan profesinya serta pengalaman dalam menjalankan profesinya. Lebih khusus untuk dai, hal penting yang tidak boleh ditinggalkan adalah sikap yang terkait dengan profesinya. Pada intinya, dibutuhkan kemampuan penguasaan materi agama Islam yang sangat baik, kemudian sikap dan penghargaan terhadap dakwah yang dilakukannya dan kemudian kemampuan teknis yang menyangkut metodologi dan tehnik dakwah yang memadai.
Karena da’i sebagai agent of change, maka harus mempunyai visi yang jelas tidak saja menyangkut wawasan Islam yang utuh tapi juga visi menyeluruh tentang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Hal ini penting karena pada perjalanannya, seorang dai harus mampu mengarahkan umat pada suatu tatanan mapan, establish, maju dan diperhitungkan di hadapan umat-umat lain. Dai yang professional tidak saja menjadikan Islam sebagai keniscayaan nilai yang terimplementasikan dalam kehidupan manusia, tetapi juga merupakan wacana praksis yang meskipun tidak bisa dipaksakan kepada manusia akan tetapi hanya dengan itulah keadilan dalam maknanya yang paling luas dan dalam dapat terlaksana; tentunya masih pada ranah berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Wallahu a’lam bisshawab.
Makna Spiritual Mudik Lebaran
Oleh : Miftah Nashir

Barangkali fenomena khas dan unik dalam setiap lebaran Idul Fitri adalah mudik. Khas karena fenomena ini menjadi semacam ritual tahunan dan menjadi kebiasaan kolektif bangsa Indonesia yang melekat dalam setiap momen Idul Fitri. Setahun sekali, orang dari perantauan berduyun-duyun pulang ke kampung halaman pada hari-hari terakhir Ramadan. Bahkan, Umar Kayam (2002) menyebutkan bahwa mudik telah terjadi berabad-abad lalu y
ang awalnya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Dahulu mudik menjadi kegiatan untuk membersihkan makam leluhur disertai upacara doa bersama untuk dewa-dewa dengan harapan agar para perantau diberi keselamatan dan keluarga yang ditinggalkan selalu dilindungi. Lambat laun akhirnya tradisi itu terkikis ketika Islam masuk ke tanah Jawa. Meski demikian, peluang kembali ke desa setahun sekali itu muncul kembali lewat momentum Idul Fitri.
Dalam konteks kekinian, mudik menjadi ajang melepas rindu yang merupakan nilai-nilai primordialisme yang bersifat positif atau dalam istilah Emha Ainun Najib mudik sebagai upaya memenuhi tuntutan sukma untuk bertemu dan berakrab-akrab dengan asal-usulnya. Namun, karena tradisi mudik tahunan ini selalu identik dengan hadirnya Idul Fitri, maka maknanya tidak hanya sekadar peristiwa biologis yakni pelepasan rindu kampung halaman, melainkan juga memiliki makna spiritual yang begitu dalam.
Dimensi Spiritual Mudik
Setelah bergelut dengan hiruk pikuk kehidupan kota yang begitu keras maka bersua dengan keluarga, sungkem kepada orang tua, bertegur sapa dan berbagi rasa dengan tetangga menjadi sebuah kesempatan berharga untuk merestorasi spiritualitas yang terkikis seiring dengan makin ketatnya kompetisi. Maka, dalam hal ini prosesi mudik menjadi semacam transformasi spiritual untuk mewujudkan solidaritas terhadap sesama yang dibelenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan di tengah peradaban modern.
Hal diatas semakna dengan apa yang dilontarkan Jalaluddin Rakhmat yang menganggap bahwa mudik lebaran sebagai sebuah perjalanan melintasi waktu. Disaat manusia merasa menjadi modern yang dibarengi dengan kehilangan rasa kemanusiaannya, maka tak ada lagi ruang kasih sayang dan emosi manusiawi yang ditebarkan bagi manusia lainnya sehingga yang muncul adalah perangai kasar yang mementingkan diri sendiri dan agresif.
Beliau mensinyalir bahwa kita sedang mengembangkan struktur sosial ‘ayam besar’ yang berusaha mematuk yang lemah. Kita telah menjadi materialistis yang siap mengorbankan perasaan kemanusiaan untuk keuntungan material. Semua orang seolah-olah sakit, termasuk para dokter dan pegawai rumah sakit. Untuk itu, diperlukan terapi yang sifatnya massal. Terapi yang diberikan haruslah menghilangkan semangat memiliki material ke semangat kekeluargaan yang spiritual.
Dalam hal ini, spiritualitas mudik setidaknya mengingatkan kita akan keluhuran manusia yang masih memiliki semangat asal. Karena melalui mudiklah, kita sebenarnya diingatkan kembali kepada awal kejadian kita, di mana untuk pertama kalinya kita melihat dunia. Mencenungi saat berada di kandungan ibu. Kandungan disebut pula sebagai rahim. Tuhan pun diseru dengan sebutan ya rahim. Wahai yang memberikan kasih sayang. Kasih sayang Tuhan mewujud pada kasih sayang (rahim) ibu.
Dengan demikian, mudik jangan dijadikan semacam ritual tahunan yang sangat konsumtif. Hal-hal seperti berbagi rezeki, menyambung tali silaturahmi, mengakhiri permusuhan, dan memohon maaf pada kedua orang tua jauh lebih bermakna. Dalam bahasa yang lebih luas, mudik seharusnya mendorong kita mewujudkan nilai-nilai transenden untuk kemudian sedikit demi sedikit meluruhkan belenggu hedonisme-materialisme yang tercipta di tengah peradaban modern. Semoga.
Bandung (Bukan) Lautan Sampah
“Selama ini masyarakat tidak dididik untuk tahu—atau mau tahu—tentang dari mana benda-benda yang dikonsumsi berasal, berapa banyak sumber daya alam yang digunakan untuk memproduksi itu semua, dan ke mana semua itu akan berakhir riwayatnya—kertas, tisu, bungkus permen, puntung rokok, komputer, pakaian, dan sebagainya.”
Kerusakan di muka bumi telah tampak nyata dan semakin hari semakin memprihatinkan. Terutama masalah sampah yang menjadi masalah krusial dalam isu kerusakan lingkungan hidup.
Dalam 5 tahun terakhir saja, volume sampah di Bandung bertambah rata-rata 41 % atau 462.430 m3 per tahun. Parahnya lagi, volume sampah yang diolah baru 10% dari total produksi sampah kota. Sedangkan setiap tahun volume sampah bertambah terus menerus. Setiap penduduk berpotensi menghasilkan sampah 3 liter per hari. Tak heran dengan jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa, beban sampah tahun 2005 mencapai 7500 m3 per hari.
Ternyata sampah yang terkumpul dari rumah tangga, kemudian diangkut ke TPA, tidak serta merta menyelesaikan persoalan. Malah menimbulkan persoalan lain seperti kejadian fenomenal longsor di Leuwigajah. Tumpukan sampah menyebabkan gas metana yang berdekomposi menghasilkan panas yang sangat tinggi ketika ada tekanan udara dari atas, sementara bagian tumpukan sampah paling bawah mengandung bakteri anaerob yang tidak bisa bersenyawa dengan udara. Akibatnya, tekanan udara berbalik ke atas menghasilkan ledakan besar mirip bom berkekuatan tinggi.
Perlu Kesadaran Kolektif
Bermasalahnya pengelolaan sampah bukan sekedar karena keterbatasan teknologi dan ekonomi semata, melainkan lebih pada adanya masalah budaya; kebiasaan lama, perilaku dan pola pandang keliru terhadap sampah dan ini harus segera dikoreksi. Dewi Lestari berpendapat bahwa selama ini masyarakat tidak dididik untuk tahu—atau mau tahu—tentang dari mana benda-benda yang dikonsumsi berasal, berapa banyak sumber daya alam yang digunakan untuk memproduksi itu semua, dan ke mana semua itu akan berakhir riwayatnya—kertas, tisu, bungkus permen, puntung rokok, komputer, pakaian, dan sebagainya. Pelajaran Biologi, misalnya, mungkin sebagian relatif gagal karena tidak membuat murid bertanya mengapa petani cukup sering mengalami kekurangan pupuk, atau mengapa sumber air bersih di sekitar mereka sudah tak lagi jernih.
Persoalan pelik tentang sampah ini, tidak melulu menjadi urusan pemerintah atau aktifis lingkungan saja. Sebagai contoh, di Kota Bandung saja, potensi sampah yang dihasilkan mencapai 3.677.377 meter kubik per hari,dan hanya 82 persen saja yang mampu diangkut oleh Dinas Kebersihan. Maka, perlu adanya kesadaran kolektif sinergis antara pemerintah, aktifis, pendidik dan masyarakat umum. Perlu adanya gerakan pengelolaan sampah yang benar, yang dimulai dari individu-individu dalam skala kecil.
Mengubah Paradigma Masyarakat
Dampak lingkungan di perkotaan cenderung tidak terdistribusi secara merata, baik secara sosial maupun geografis. Selama ini solusi permasalahan sampah masih menggunakan pola mengalihkan sampah ke tempat lain, atau sering disebut dengan NIMBY (Not In My Back Yard), fenomena ini melekat pada individu-individu yang tidak peduli pada lingkungan sekitar. Yang penting lingkungan saya bersih, sehat, tak peduli lingkungan sekitar mau bersih atau tidak. Gamblangnya, NIMBY sebagai masnifestasi sikap apriori dan ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar, asal saya sehat tak peduli orang lain sakit karena ulah saya. Asal lingkungan rumah saya bersih, tak peduli lingkungan tetagga kotor.
Menyikapi hal ini, perlu adanya pengelolaan alternatif yang dapat dapat menuntaskan persoalan secara menyeluruh. Dalam hal ini alternatif landfill kurang tepat. Memang secara sepintas, metode landfill relatif mudah dilakukan dan bisa menampung sampah dalam jumlah besar. Akan tetapi, jika tidak dilakukan dengan benar, landfill dapat menimbulkan masalah, yaitu bau dan pencemaran air. Selain itu, gas metana yang dihasilkan oleh landfill yang tidak dimanfaatkan akan menyebabkan efek pemanasan global dan jika termampatkan di dalam tanah, gas metana bisa meledak.
Solusi Alternatif Ideal?
Solusi alternatif yang dipilih harus bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah dan menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Pemilahan sampah organik dan anorganik untuk kemudian dikomposkan dan didaur-ulang dalam hal ini bisa dijadikan alternatif, meski tidak serta merta menyelesaikan permasalahan sampah secara singkat. Alternatif ini lebih baik daripada daripada membuang sampah ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada saat ini. Sampah yang telah di daur ulang, kemudian dimanfaatkan oleh industri yang mendesain bahan produknya dari sampah yang didaur ulang. Bisa menghasilkan pupuk kompos, kerajinan dari bekas kemasan kopi, dan lain sebaginya.
Pada akhirnya memperlakukan sampah dengan baik akan memberikan nilai positif. Selain mengedukasi masyarakat tentang bagaimana mengelola sampah yang benar, juga dapat menghasilkan nilai ekonomi yang tidak bisa dibilang sedikit. Hanya saja perlu adanya gerak aktif dan sinergis dari semua pihak untuk duduk bersama dan seiya sekata dalam menyelesaikan permsalahan sampah ini. Bila semuanya menyadari arti penting dan manfaat kebersihan lingkungan, maka membuang sampah sembarangan akan menjadi hal yang langka di Indonesia. Semoga.
Tips Menullis ala Miftah Nashir
Saya ingin menulis karena saya ingin dikenal oleh banyak orang, dengan menulis juga saya bisa beraktualisasi diri, menunjukkan kepada semua orang bahwa inilah saya. Dengan menulis juga, kita dituntut untuk mengerahkan segala pemikiran kita. Dalam rangka menulis, kita dituntut untuk lebih banyak membaca, dituntut untuk lebih banyak berpikir.
Maka, dengan kegiatan menulis, kita dirangsang untuk melakukan kegiatan positif lainnya. Ya, meskipun kegiatan menulis dirasakan susah untuk orang yang belum terbiasa, tapi jika dilakukan dengan menyenangkan dan tanpa beban, menulis seolah aktifitas yang tak akan terlepas dari aktifitas kita sehari-hari.
Untuk mendapatkan ide. Banyak sebenarnya ide itu, hanya saja kita harus jeli melihat ide. Ide berserakan di jalan-jalan, kampus, pasar ataupun disebuah pesantren. Hanya saja, perlu keterampilan khusus dalam membaca situasi social yang terjadi dimasyarakat, nah disinilah kepekaan terhadap permasalahan yang ada di lingkungan dibutuhkan. Apa yang sedang terjadi dimasyarakat, apakah ada masalah, kalau memang iya, lantas apa solusinya dalam menyelesaikan masalah tersebut. Dengan pemikiran sederhana seperti itu, sebenarnya sudah cukup untuk dijadikan sebuah artikel.
Dan yang terpenting dalam mengasah kemampuan menulis adalah langsung terjun menulis, tanpa takut salah ataupun jelek tulisan kita. Yang penting tulis, tulis dan tulis, soal benar atau salah penulisannya itu urusan nanti, tokh tidak aka nada yang menyalahkan tulisan anda ?
Hal yang perlu diperhatikan juga adalah pemilihan waktu biologismu untuk menulis, apakah malam hari, subuh hari, atau sore hari. Kenapa ini penting, karena tiap orang cenderung berbeda jam biologis mereka, biasanya ada orang yang merasa pikirannya fresh ketika subuh hari ataupun sore hari.
Nah, temukan jam biologismu yang cocok untuk menulis sesuatu.
dan seterusnya adalah menulis, menulis, menulis!
Bung Karno “Penyelundup” (?)
Mungkin judul diatas agak provokatif, tapi tenang dulu… saya hanya ingin mengupas sisi unik dari sang proklamator. Saya terharu membaca kisah beliau ketika dipenjara di Sukamiskin, baginya penjara bukanlah halangan bagi beliau untuk terus membaca, meski pemerintah Belanda saat itu, melarang keras Soekarno untuk membaca buku. Namun berkat jasa seorang sipir penjara akhirnya beliau bisa membaca buku diam-diam dengan cara “menyelundupkan” buku. Ini menggambarkan betapa gigihnya seorang Soekarno untuk mendapatkan ilmu, ketika di penjara sekalipun.
Keadaan diatas, kontras sekali dengan kebanyakan mahasiswa zaman kiwari. Bergerombol kesana kemari dengan dandanan serba wah. Berlomba menonjolkan rasa keakuannya sebagai mahluk paling trendy. Sementara itu, buku-buku di perpustkaan seakan menjadi hiasan rak dan barang usang yang tak tersentuh. Sehinga istilah perpustakaan ibarat tokek hampir menjadi sebuah kenyataan. Kenyataan pahit yang menempatkan perpustakaan sebagai tempat paling langka untuk dikunjungi. Miris sekali.
Sebagai insan intelektual, membaca buku atau setidaknya mengunjungi perpustakaan haruslah menjadi kebiasaan dan rutinitas. Tidak perlu didorong dan dikompori oleh dosen untuk membaca buku anu dan itu, juga tak indah rasanya jika seorang mahasiswa tidak membaca satu halaman buku pun dalam satu hari. Memalukan dan sekaligus memprihatinkan. Idealnya membaca buku menjadi semacam menu harian bagi seorang mahasiswa.
Persoalan lain yang cukup pelik adalah minimnya dukungan pemerintah dalam “pembudidayaan” minat baca masyarakat, terkhusus mahasiswa. Tidak adanya program buku murah, pemotongan pajak buku, atau harga khusus bagi pengiriman buku lewat pos menjadi persoalan yang menghambat budaya baca masyarakat Indonesia.
Saya kira, program buku murah atau gratis (kalau bisa) untuk siswa dan mahasiswa bukanlah hal muluk dan melangit. Bisa jadi hal ini menjadi terobosan baru dan spektakuler untuk memajukan pendidikan Indonesia sehingga kita tak perlu lagi malu dengan prestasi pendidikan Indonesia yang hingga kini masih carut-marut. Semoga.
Bagaimana menurut anda ?
Tasikmalaya, 6/28/2010 2:15:40 PM
Mahasiswa, Laptop, dan Semangat Berkarya
Keserba-mudahan ini tidak serta merta menjadikan mahasiswa semakin produktif. Lantas, apa yang bisa kita banggakan kepada Bangsa Indonesia, tentang amanat yang disematkan pada pundak kita sebagai agen perubaahan ?” –mief-
Ada perubahan signifikan dalam kebiasaan saya menulis ketika akhirnya (setelah bosan berangan-angan), memiliki laptop yang saya anggap seperti ‘senjata’, atau sebagai pengganti pena untuk menulis. Ini kemudian menjadi semacam pembuktian untuk saya telah menggunakan uang Negara di jalan yang benar dan lurus. Bagi saya pribadi, laptop sangat penting untuk membiasakan diri menulis. Mencurahkan perasaan, menulis kejadian menarik, ide, perasaan, ataupun sebatas coretan tak bermutu untuk kemudian bertumpuk dalam satuan kilobyte.
Menulis, khususnya nge-blog menjadi semacam pelarian atas realitas. Ketika tidak ada ruang lagi untuk menyalurkan ide, perasaan atau untuk sekedar besantai ria maka blog menjadi sebuah penampungan semua kegelisahan hidup dengan menuliskannya. Semua itu sebagai alternatif pelepasan kepenatan setelah bergelut dengan berbagai keseriusan. Kurang indah rasanya kalau kehidupan akademis ini hanya melulu berkutat dengan buku, makalah, tugas, perpustakaan, dosen killer dan hal-hal yang berbau serius lainnya. Maka, menulis dan juga nge-blog menjadi salah satu alat pelampiasan efektif untuk melawan kejenuhan ngampus. Atau, ketika teriakan tak lagi dengar oleh elit kampus, maka menulis adalah senjata terakhir dan cukup efektif untuk melawan ketidakadilan.
Tak bisa dipungkiri bahwa, kemajuan teknologi ternyata merubah cara manusia dalam melakukan sesuatu. Hampir-hampir budaya tulis dikertas mulai ditinggalkan, digantikan budaya menulis di komputer jinjing yang kini kehadirannya tidak lagi menjadi barang mewah, khususnya bagi mahasiswa. Dengan keberadaan benda berteknologi ini, semakin memudahkan mahasiswa untuk mengakses informasi lewat internet yang mulai tersedia di setiap sudut kampus.
Semakin ditinggalkannya buku, dan beralihnya ke laptop bukanlah hal yang perlu disesali karena mahasiswa telah terbantu dengan fasilitas ini. Bayangkan saja, dengan berat antara 1-2 kg, benda sekecil laptop ini bisa menyimpan ribuan buku-buku elektronik, yang jika dicetak bisa memenuhi ruangan kelas. Kemudahan dalam mengakses jutaan informasi di seluruh dunia, menjadi kelebihan tersendiri teknologi ini.
Perubahan tanpa Semangat
Perubahan adalah suatu keniscayaan. Muhammad Iqbal menegaskan bahwa manusia yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan akan terlindas dan tersingkir oleh zaman. Ketidakmampuan dalam memahami perubahan menjadikan manusia diam ditempat. Begitu pula dengan menulis, yang asalnya menggunakan buku bertransformasi menjadi laptop yang mobilitasnya tinggi, sehingga kegiatan menulis dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah perubahan ini menjadi sebuah pemicu berubahnya suatu kreatiitas? Apakah dengan majunya teknologi manusia semakin produktif dalam berkarya? Atau malah terlena dengan kemajuan teknologi sehingga menjadikan manusia semakin malas untuk berkarya ? transformasi dari buku ke laptop tentu sangat dirasakan manfaatnya. Beberapa tahun kebelakang sebelum laptop booming, seorang mahasiswa membuat tugas dengan membuat tulisan tangan di kertas bergaris bisa memakan waktu berhar-hari, atau bersusah payah mengetik di mesin tik hingga jari rasanya mau patah.
Namun, saya kira, perubahan yang terjadi sekarang lebih kepada perubahan sikap mental yang cenderung hedonistik dan instant. Ternyata, kemudahan tidak serta merta meningkatkan kualitas dan kuantitas berkarya. Justru dengan kemudahan ini mahasiswa semakin ternina bobokan. Dan membuat mereka tidak sadar akan perubahan itu sendiri.
Kesadaran dalam konteks ini adalah adanya refleksi atas perubahan yang terjadi. Kegigihan masa lalu dalam membuat karya tidak lantas hilang dengan adanya perubahan. Justru dengan perubahan yang semakin memanjakan dan memudahkan ini menjadikan produktifitas meningkat. Tidak elok juga kalau kemudahan teknologi malah semakin mereduksi semangat dan kegigihan dalam berkarya. Jika dulu untuk menjadi penulis saja harus bersusah payah. Menyiapkan kertas dan pensil untuk mencatat ide. Belum lagi harus mengetik di mesin tik yang membuat jari terasa mau patah. Atau memasang pita yang sangat sulit memasangnya. Sekarang, semua itu bisa dikerjakan hanya cukup dengan memijit tombol power dan kegiatan menulis pun bisa dikerjakan pada waktu dan tempat yang tak terbatas.
Selain hal diatas, fakta lain yang menyedihkan adalah tugas-tugas mahasiswa yang seharusnya berbobot dan kaya akan muatan intelektualnya malah terkesan tidak bermutu dan dipandang sebelah mata hanya karena dikerjakan dalam sistem kebut semalam. Parahnya lagi, mahasiswa banyak melakukan plagiat dengan hanya copas (copy-paste) langsung dari internet.
Pentingnya Kesadaran
Perubahan memang harus terjadi, namun kesadaran akan perubahan dan bagaimana mengaktualisasikan spirit masa lalu dalam konteks kekinian harus dipertahankan. Sangat tidak sehat juga ketika keserba-mudahan menjadikan manusia tertidur dari kesadarannya. Refleksi atas perubahan ini perlu agar manusia tidak semakin terasing dengan dirinya sendiri. Terlebih lagi jika perubahan mampu memperkaya diri manusia dengan semangat berkarya dan pengetahuan.
Romatisme semangat masa lalu bukanlah hal yang melangit untuk direalisasikan dalam konteks kekinian. Justru, menjadi ironis jika kegigihan masa lalu menjadi semakim melempem dalam era keserba-mudahan ini. Semoga saja, mahasiswa sekarang bisa merfleksikan segala perubahan demi perbaikan diri yang pada akhirnya menempatkan mahasiswa sebagai the real agent of change.
Menurut anda bagaimana?
Al-Ihsan Islamic Boarding School, Thursday, June 17, 2010, 21:44:07
Note : Artikel ini terinspirasi dari Artikel berjudul Buku, Laptop dan Semangat Perubahan, Mei, 2010. Okezone.com
Sebuah OTOKRITIK
Banyak yang memandang bahwa mahasiswa adalah kelompok sosial yang strategis sekaligus unik yang berperan dalam perubahan sosial-politik, unik karena mahasiswa cenderung memiliki idealisme yang masih terbebas dari hal berbau politis. Strategis karena, dengan posisinya sebagai insan intelektual yang memiliki pengetahuan dipandang mampu dalam melakukan perubahan serta memiliki cukup banyak waktu untuk mengaktualisasikan diri sebagai insan akademis, hal ini kemudian menjadikan mahasiswa sebagai aktor intelektual dalam setiap perubahan sosial.
Bahkan menurut Anwar (1981), sudah menjadi truisme bahwa gerakan protes mahasiswa, terutama di Dunia Ketiga, memainkan peranan sangat penting dan berposisi sentral dalam percaturan politik. Maka tak heran, para penguasa tidak bisa mengabaikan posisi sosial serta dampak aspirasi politik mereka. Ini kemudian menjadikan mahasiswa memiliki bargaining position yang penting dalam struktur sosial.
Sebagai insan akademis mahasiswa memiliki potensi kekuatan fikir untuk mengkritisi fenomena-fenomena sosial-politik, sehingga kemudian mereka menjadi solution maker dalam permasalahan yang berkembang. Terlebih lagi sebagai generasi muda, mahasiswa memiliki idealisme yang mendorong mereka untuk bergerak, melawan dan mengkritisi penguasa. Masih segar di ingatan kita bagaimana mahasiswa mampu menembus tembok kekuasaan tirani yang semena-mena terhadap rakyat. Waktu itu, kawan-kawan mahasiswa dan rakyat berdemo menuntut ditegakkannya keadilan, menuntut adanya reformasi, sampai akhirnya sang “raja” pun terjungkal dihadapan kekuatan mahasiswa, atau tengok saja peristiwa-peristiwa bersejarah seperti lahirnya Boedi Oetomo atau peristiwa Malari, semuanya tak bisa dilepaskan dari peran mahasiswa.
Maka hal diatas cukup bagi saya untuk merasa bangga menyandang status mahasiswa, walaupun pada kenyataanya belum begitu merasakan betul tentang esensi menjadi seorang agent of change. Ungkapan-ungkapan yang mengumbar tentang kehebatan mahasiswa tidak begitu kentara ketika saya mengalaminya sendiri. Ternyata, banyak hal diluar dugaan, banyak hal yang bertentangan dengan apa yang saya pikirkan tentang mahasiswa. Ya, dengan menyandang status mahasiswa, dengan embel-embel kata “maha”, menjadikan komunitas ini terasa superior diantara golongan pelajar lainnya. Lantas, apakah superioritas mahasiswa ini menjadikan kualitasnya diatas siswa? Atau identitas sebagai mahasiswa hanya sebuah topeng kepalsuan untuk mendapat pengakuan di masyarakat?
Batin saya berontak ketika melihat banyak ketimpangan yang terjadi. ketika kita melihat gaya hidup kebanyakan mahasiswa yang tidak mencerminkan cita rasa intelektualitasnya, menjadikan status mahasiswa sebagai topeng untuk menutupi kelemahan diri, atau sekedar mendapat pengakuan sebagai golongan berpendidikan, atau mungkin saja sebagai pelarian atas realitas hidup yang membingungkan, dengan kata lain, dari pada nganggur, mending kuliah saja, supaya dapat “beasiswa” dari orang tua.
Apakah masa-masa kejayaan mahasiswa telah berlalu, sehingga yang terjadi kemudian adalah merajalelanya hedonisme diiringi memudarnya budaya berpikir kritis, atau mungkinkah mahasiswa kehilangann arah, tentang apa yang harus diperbuat, atau bisa jadi menjadi korban zaman dengan merebaknya budaya serba instan, yang melenakan kita.
Budaya instan telah membuat kita malas berpikir tentang apa itu arti kerja keras, tentang apa itu hak kekayaan intelektual, sehingga kita merasa tidak berdosa ketika menjiplak artikel di internet, dan mengklaim bahwa itu hasil diri sendiri. Tentunya masih segar di ingatan kita, seorang mahasiswa pascasarjana di sebuah Institut terkenal, menjiplak jurnal ilmiah karya orang lain, dan lucuya itu terjadi pada universitas kaliber dunia. Sungguh menggelikan!
Kalau sudah begini, Quo Vadis Mahasiswa Indonesia ?
Banyubiru, Friday, June 04, 2010



