Tidak ada yang istimewa pagi ini, sama seperti pagi yang dahulu. Menjalani rutinitas pagi dan ini itu. Terkadang membuat diri ini terasa biasa-biasa saja. Namun, tentu saja kita bisa membuat pagi lebih berbeda dengan menulis sesuatu. Minimal mengungkapkan pemikiran kita, agar terasa lebih bermakna. Mencoba menikmati setiap detak waktu dengan karya terbaik, persembahan untuk dunia.
Memang, untuk menghasilkan karya terbaik mesti dilakukan dengan usaha terbaik pula. Tak ada kata kompromi untuk meraihnya. Pekerjaan yang dilakukan dengan cara yang bias, sudah bisa dipastikan akan memperoleh hasil yang biasa-biasa saja. Hukum alam pasti berlaku, man jadda wa jadda. Yang bersungguh-sungguh pasti dia akan mendapatkannya.
Teringat pada sebuah syait nasyid favorit saya, yang berjudul Terbaik yang dinyanyikan oleh Tashiru. Begini penggalana syairnya “Sesungguhanya kesungguhan adalah keberhasilan”. Selalu terngiang-ngiang syair tersebut di ingatan saya. Mendengarnya seolah memberi energi tambahan kepada saya untuk terus melakukan sesuatu dengan penuh semangat dan cinta. Saya menyadari sudah terlalu banyak waktu yang saya habiskan untuk membuang-buang waktu, dengan kesadaran penuh bahwa waktu itu sangat berharga dan tak dapat dinilai dengan uang.
Jika, ada yang bertanya, berapakah harga waktu? Seandainya anda tahu bahwa ajal anda adalah 3 bulan lagi, ditukar dengan apakah sisa waktu anda sehingga anda menjadi rela? Tentunya anda akan berpikir2 ulang untuk menukar waktu tersebut, meski dengan iming-iming apapun.
Ok, jadi sekarang kita menyadari fakta tak terbantahkan bahwa waktu itu adalah sangat berharga. Saking berharganya kita tidak bisa menggantinya dengan materi. Dan memang tidak bisa digantikan dengan materi.
Sehingga, tak heran jika Allah Swt bersumpah atas waktu. Demi waktu! Sesungguhnya manusia ada dalam kerugian. Ini menggambarkan betapa ruginya manusia jika tidak menggunakan waktu yang telah dimiliki. Sepenuhnya kita yakin bahwa setiap detik yang berdetak itu adalah proses pengurangan jatah usia kita didunia. Maka, betapa ruginya jika jatah waktu yang diberikan oleh Allah SWT kita sia-siakan dengan perbuatan-perbuatan yang sia-sia.
Sejatinya, kesadaran akan pentingnya waktu membawa kita untuk terus menerus memanfaatkan waktu dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Tentu saja dengan mengerahkan segala kemampuan dan mengerahkan segala kualitas yang kita miliki. Pada intinya, all out adalah harga mati untuk setiap aktifitas. Komitmen 100% menjadi sebuah prinsip yang tak bisa ditawar2 lagi untuk menjemput mimpi dan meraih kesuksesan.
Sudah menjadi mafhum, bahwa meraih kesuksesan dan meraih mimpi berarti menantang berbagai masalah dan rintangan. Ya, memang sudah menjadi sunnatullah jika ingin mencapai sesuatu maka harus berusaha sekuat mungkin. Tak ada yang gratis di dunia, semua perlu dibayar dengan harta dan komitmen 100 % yang seringkali membuat kita patuh untuk menjalaninya.
Pada akhirnya, kita tidak bisa menambah dan menunda jatah usia kita, selama masih mempunyai waktu dan kesempatan selama itulah kita bisa memberikan karya terbaik untuk dunia dan akhirat. Sehingga ketika seandainya diakhirat ditanya, karya terbaik apa yang telah engkau persembahkan? Maka,kita akan menjawab dengan tenang dan bangga tentang keberhasilan kita didunia.
Mulai sekarang dan seterusnya, lebih bijak lagi jika dalam setiap lipatan waktu kita menghadirkan Allah dalam setiap nafas dan linatasan pikiran. Karena sejatinya, Dia lah yang memberikan usia kepada dan Dialah yang telah menghidupkan kita di dunia.


Setelah bergelut dengan hiruk pikuk kehidupan kota yang begitu keras maka bersua dengan keluarga, sungkem kepada orang tua, bertegur sapa dan berbagi rasa dengan tetangga menjadi sebuah kesempatan berharga untuk merestorasi spiritualitas yang terkikis seiring dengan makin ketatnya kompetisi. Maka, dalam hal ini prosesi mudik menjadi semacam transformasi spiritual untuk mewujudkan solidaritas terhadap sesama yang dibelenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan di tengah peradaban modern.



