Membeli Waktu

Tidak ada yang istimewa pagi ini, sama seperti pagi yang dahulu. Menjalani rutinitas pagi dan ini itu. Terkadang membuat diri ini terasa biasa-biasa saja. Namun, tentu saja kita bisa membuat pagi lebih berbeda dengan menulis sesuatu. Minimal mengungkapkan pemikiran kita, agar terasa lebih bermakna. Mencoba menikmati setiap detak waktu dengan karya terbaik, persembahan untuk dunia.

Memang, untuk menghasilkan karya terbaik mesti dilakukan dengan usaha terbaik pula. Tak ada kata kompromi untuk meraihnya. Pekerjaan yang dilakukan dengan cara yang bias, sudah bisa dipastikan akan memperoleh hasil yang biasa-biasa saja. Hukum alam pasti berlaku, man jadda wa jadda. Yang bersungguh-sungguh pasti dia akan mendapatkannya.

Teringat pada sebuah syait nasyid favorit saya, yang berjudul Terbaik yang dinyanyikan oleh Tashiru. Begini penggalana syairnya “Sesungguhanya kesungguhan adalah keberhasilan”. Selalu terngiang-ngiang syair tersebut di ingatan saya. Mendengarnya seolah memberi energi tambahan kepada saya untuk terus melakukan sesuatu dengan penuh semangat dan cinta. Saya menyadari sudah terlalu banyak waktu yang saya habiskan untuk membuang-buang waktu, dengan kesadaran penuh bahwa waktu itu sangat berharga dan tak dapat dinilai dengan uang.

Jika, ada yang bertanya, berapakah harga waktu? Seandainya anda tahu bahwa ajal anda adalah 3 bulan lagi, ditukar dengan apakah sisa waktu anda sehingga anda menjadi rela? Tentunya anda akan berpikir2 ulang untuk menukar waktu tersebut, meski dengan iming-iming apapun.

Ok, jadi sekarang kita menyadari  fakta tak terbantahkan bahwa waktu itu adalah sangat berharga. Saking berharganya kita tidak bisa menggantinya dengan materi. Dan memang tidak bisa digantikan dengan materi.

Sehingga, tak heran jika Allah Swt bersumpah atas waktu. Demi waktu! Sesungguhnya manusia ada dalam kerugian. Ini menggambarkan betapa ruginya manusia jika tidak menggunakan waktu yang telah dimiliki. Sepenuhnya kita yakin bahwa setiap detik yang berdetak itu adalah proses pengurangan jatah usia kita didunia. Maka, betapa ruginya jika jatah waktu yang diberikan oleh Allah SWT kita sia-siakan dengan perbuatan-perbuatan yang sia-sia.

Sejatinya, kesadaran akan pentingnya waktu membawa kita untuk terus menerus memanfaatkan waktu dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Tentu saja dengan mengerahkan segala kemampuan dan mengerahkan segala kualitas yang kita miliki. Pada intinya, all out adalah harga mati untuk setiap aktifitas. Komitmen 100% menjadi sebuah prinsip yang tak bisa ditawar2 lagi untuk menjemput mimpi dan meraih kesuksesan.

Sudah menjadi mafhum, bahwa meraih kesuksesan dan meraih mimpi berarti menantang berbagai masalah dan rintangan. Ya, memang sudah menjadi sunnatullah jika ingin mencapai sesuatu maka harus berusaha sekuat mungkin. Tak ada yang gratis di dunia, semua perlu dibayar dengan harta dan komitmen 100 % yang seringkali membuat kita patuh untuk menjalaninya.

Pada akhirnya, kita tidak bisa menambah dan menunda jatah usia kita, selama masih mempunyai waktu dan kesempatan selama itulah kita bisa memberikan karya terbaik untuk dunia dan akhirat. Sehingga ketika seandainya diakhirat ditanya, karya terbaik apa yang telah engkau persembahkan? Maka,kita akan menjawab dengan tenang dan bangga tentang keberhasilan kita didunia.

Mulai sekarang dan seterusnya, lebih bijak lagi jika dalam setiap lipatan waktu kita menghadirkan Allah dalam setiap nafas dan linatasan pikiran. Karena sejatinya, Dia lah yang memberikan usia kepada dan Dialah yang telah menghidupkan kita di dunia.

Arti Sebuah Karya

Berbicara tentang menghasilkan sebuah karya,  berarti membicarakan tentang tantangan. Justru ketika memutuskan untuk berkarya, entah itu membuat buku ataupun yang lainnya maka sebenarnya kita sedang menantang diri untuk menghadapi berbagai masalah yang kerap muncul. Hal ini wajar saja dan kerap terjadi pada para penulis pemula yang kerap tidak fokus untuk menuangkan gagasannya. Ya. Contohnya seperti saya ini yang belum kelar-kelar juga menyelesaikan sebuah buku, padahal outline dan berbagi media yang mendukungnya telah ada dihadapan mata.

Saya berfikir, apakah ini disebabkan oleh mindset? Mindset bahwa mengerjakan sebuah karya harus memakan waktu yang lama, harus memakan waktu berbulan-bulan. Pertanyaannya kemudian,disatu sisi banyak orang yang mampu menelurkan karya hanya dalam hitungan minggu, atau bahkan hitungan hari. Meski dengan waktu yang singkat mereka bisa membuktikan bahwa karya mereka memang patut diperhitungkan sebagai sebuah karya. Bahkan beberapa diantaranya banyak yang telah membuktikan bahwa karya yang dikerjakan dengan cepat malah menjadi produk best seller dan diminati oleh masyarakat. Berbicara tentang membuat buku, memang tidaklah sederhana yang dibayangkan. Dan juga tidak begitu sulit untuk dilakukan. Bisa jadi pola pikir kita yang memandang sesuatu menjadi penghambat kenapa hidup kita biasa-biasa saja atau kenapa kualitas kita tidak begitu diperhitungkan oleh orang lain.

Satu lagi yang bisa menjadi virus adalah cepat puas sesaat setelah menyelesaikan karya. Padahal, merasa puas diawal justru menjadi pelemah untuk terus melangkahkan kaki. Bukannya kita dituntut untuk serba sempurna, karena tak ada juga yang sempurna di dunia ini. Yang terpenting didalam membuat karya adalah lakukan yang tebaik dan kerahkan segala kemampuan yang kita punya. Jangan kemudian melakukan sesuatu hal dengan setengah-setengah atau melakukan sesuatu serba tidak beres.

Keyakinan kita jugalah yang pada akhirnya membawa kita pada apa yang kita inginkan suatu hari nanti. Pernahkah kita melihat seseorang yang telah sukses? Mungkin seringkali kita melihat dia setelah dia sukses, lalu pertanyaannya adalah apakah kita sering bertanya bagaiamana keadaan dia sebelum dia meraih kesuksesannya? Saya yakin, rata-rata orang sukses mencapai kesuksesannya dengan susah payah dan perjuangan yang keras. No Pain, No gain. Berakit-rakit dahulu berenang-renangkemudian, bersakit=sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Begitulah peribahasa mengatakan. Peribahasa tersebut seolah mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis, semua butuh proses dan usaha. Dan sekali lagi, tak ada makan siang gratis, semua perlu dibayar harganya barulah kita bisa meraih hasilnya.

Saya tak bisa membayangkan, jika akhirnya seorang Thomas Alpha Edison berhenti pada beberapa percobaan untuk menemukan lampu. Seandainya dia berhenti pada percobaan yang kesekiankalinya, mungkinkah lampu dapat ditemukan?

Menulis sebagai panggilan jiwa?

Serasa klise menuliskannya.  Menuliskan sesuatu harus merupakan suatu panggilan jiwa,  hehe. Saya sekarang baru menyadari bahwa saya tipe penulis yang tak focus pada tulisannya, beberapa kali menulis saya selalu ngaco dan tak keruan,dan kecenderungannya untuk selalu membicarakan diri sendiri. Kenapa pula untuk membicarakan persoalan orang lain agar terasah rasa peduli terhadap orang lain.

Meski, memang terkadang untuk memulai sesuatu yang telah lama ditinggalkan terselip rasa keengganan, barangkali dalam hal ini kawan-kawan pernah mengalami hal ini, saya tidak tau bagaimana persisnya yang jelas semua hal yang menjadi sebuah kebiasaan baik selalu saja berakhir dengan akhir yang tak begitu menyenangkan.

Contohnya aja dengan kegiatan menulis, ada beberapa pikiran liar yang hendak dituliskan namun mendadak buyar karena ketiadaan kemampuan focus untuk menulis, meski hanya menulis sekedar catatan biasa di facebook. Ya, perlu dimaklumi juga untuk penulis pemula, istilah ini terkadang saya terapkan kepada diri saya karena masih belum juga menelurkan buku. Ah, saying sekali.

Belum mampu bukan berarti tak mampu. Cukup dipahami bahwa setiap orang mempunyai proses uniknya masing-masing untuk menunjukkan karya-nya. Meski kadang, proses yang dijalani tak sepenuhnya dipahami oleh setiap orang. Memang unik sih proses kreatif seeorang, dan saya yakin jika proses kreatif itu dimunculkan oleh sesuatunya. Nah, ini kemudian yang menjadi perhatian menarik yaitu “bagaimana sih proses kreatif itu muncul?”. Jawaban dari pertanyaan ini bisa jadi menjadi beragam mengingat isi kepala dan ide-ide setiap manusia dijagad ini berbeda.

Ide atau gagasan ter ejewantah dalam bentuk karya. Atau katakanlah karya adalah bentuk ke-akuan seseorang. Sederhananya karya menunjukkan eksistensi seseorang, kalau Rene Descartes Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada, maka dalam konteks ini, berkarya maka aku ada.

Sebagai bahan refleksi, bahwa membuat karya berarti membuat sejarah tentang hidup kita. Sejatinya,  kita sendiri yang memilih mau seperti apa sejarah tentang kita ditulis, apakah hanya sebatas beberapa baris tulisan di batu nisan atau menjadi perbincangan dan sumber pencerahan bagi manusia yang pernah mengenal kita atau generasi setelahnya. Berkarya menjadi semacam bukti bahwa diri pernah mengisi ruang bumi atau setidaknya menjadi saksi bahwa keberadaan diri menjadi

Berkarya merupakan titik dimana kita bisa menembus batas yang dibuat diri kita sendiri.

Berapa Harga Sebuah Komitmen?

Mengerjakan sebuah komitmen itu perlu kesabaran ekstra, ya perlu ada ingatan yang terus menerus untuk mengingatkan pikiran kita bahwa kita mempunyai komitmen terhadap sesuatu.

Ketika komitmen itu terwujud, maka hal yang akan dituai adalah hasil yang diharapkan. Saa kini menjadi paham bahwa komitmen terhadap apapun menjadikan kita semakin berdaya terhadap sesautu tersebut, tejkanan dari luar seharusny menjadikan kita semakin kuat..

Kembali pada komitmen, ibaratnya sebuah tali untuk menggantungkan sesuatu ke atas bukit tebing yang tinggi, jika tali itu tidak diikat dengan kuat maka tali tersebut akan cenderung untuk roboh dan apa yang akan terjadi. Itu akan membahayakan penggunanya.

Tentu saja, berkomitmen pada diri sendiri sama halnya membuat janji kepada diri sendiri. Ketika janji itu tidak tepenuhi oleh diri sendiri maka hal tersebut akan menarikkan rekening kepercayaan diri di bank kepribadian. Maka, selayaknyalah kita berhati-hati untuk berjanji kepada diri sendiri karena ketika janji itu tidak diindahkan, maka kepercyaan terhadap diri sendiri sedikit demi sedikit terkikis dan akhirnya menyebabkan diri kita tidak berdaya.

Adalah bagus jika kemudian diri ini terus menerus mensugestikan bahwa diri ini mesti selalu menepati kepada diri sendiri. Untuk mensiasati hal ini kita bisa menentukan hal apa yang bisa kita berikan kepada diri sendiri, jika telah terpenuhi komitmennya. Atau sebaliknya, apa seharusnya yang harus diberi sanksi kepada diri sendiri jika diri kita tidak menepati komitmennya. Sekali lagi, komitmen adalah harga penting dari sebuah pencapaian. Pencapaian terhadap apapun.

Kenyataannya untuk mewujudkan komitmen tersebut memang tidak semudah membalik telapak tangan. Seringnya alam bawah sadar kita membisikkan sesuatu untuk melakukan sesuatu diluar komitmen yang telah ditetapkan. Bila demikian yang tejadi, maka jalannya adalah dengan mempengaruhi pikiran bawah sadar kita agar sesuai dengan tujuan dan komitmen yang telah diciptakan.

Misalnya, menulis. Kita berkomitmen untuk menulis minimal 15 menit sehari,. Tapi ketika satu hari saja dilewatkan, maka pikiran kitapun akan terus menerus mentolerir bahwa meninggalnya tidak akan menjadi hal yang besar. Beda lagi ketika pikiran bawah sadar kita mengidentifikasi bahwa pelencengan terhadap komitmen merupakan sebuah pelanggaran yang besar, maka hal tersebut akan kemudian diperhatikan sebagai sesuatu yang penting.

Komitmen, memang harga mati untuk sebuah kesuksesan. Komitmen tidak bisa dibayar harganya. Komitmen tidak bisa diuangkan dan komitmen bisa kita ciptakan sendiri dengan memastikan diri sendiri bahwa apa yang dilakukan merupakan yang tebaik yang kita berikan. Semoga bermanfaat.

Menggagas Profesionalitas Juru Dakwah

Oleh : Miftah Nashir

Dewasa ini permasalahan ummat Islam semakin kompleks dan multidimensional, tidak hanya masalah moral, ibadah ataupun aqidah tetapi juga menyangkut masalah ekonomi, sosial,budaya bahkan politik. Tentu saja ini menjadi persoalan tersendiri bagi para aktifis dakwah dan menuntut pemecahan yang tidak sederhana. Maka dalam hal ini dai sebagai agent of change dituntut melakukan terobosan dan inovasi dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Dakwah Sebagai Aktifitas Profesional

Melihat fenomena tersebut, perlu adanya protokol yang jelas (baca : standardisasi profesi) dalam aktifitas dakwah yang dapat menjadikan para juru dakwah lebih bertanggungjawab, peka, tanggap dan inovatif dalam penyampaian dakwahnya. Perlu upaya komprehensif agar tujuan dakwah tercapai, sehinnga pesan dakwah tidak hanya sampai pada tahap penghayatan tetapi juga pada taraf aplikasi. Dalam hal inillah dai dituntut professional. Lantas, bagaimanakah dai yang profesioal itu?

Menjawab fenomena ini, muncul gagasan untuk menjadikan aktifitas dakwah menjadi aktifitas profesional yang serta merta menjadikan subjeknya menjadi seorang profesional. Tentu saja upaya menjadikan dai sebagai profesi ini bukan upaya bagaimana mencari penghidupan dari kegiatan dakwah. Hanya saja dalam penerapannya perlu difahami bahwa profesionalitas juru dakwah bukan untuk melegitimasi atau formalisasi juru dakwah sebagai lahan pekerjaan untuk mencari penghidupan an sich, namun sebagai upaya peningkatan kualitas dakwah, sehingga kemudian kegiatan dakwah menjadi rapih, terorganisir dan akuntabel. Ekses positifnya adalah target dan tujuan dakwah tercapai pada sasaran dan target yang tepat.

Kriteria Profesionalitas Dai

Profesional adalah orang yang menyandang suatu jabatan atau pekerjaan yang dilakukan dengan keahlian atau keterampilan yang tinggi, secara otomatis ini berpengaruh terhadap penampilan atau performance orang tersebut dalam menjalankan profesinya. Maka da’i yang professional setidaknya dituntut memiliki tiga 3 kriteria profesi yaitu: knowledge, skill, experience. Dalam pengertian yang lebih luas dai dituntut memiliki pengetahuan mumpuni tentang profesinya, kemampuan yang berkaitan dengan profesinya serta pengalaman dalam menjalankan profesinya. Lebih khusus untuk dai, hal penting yang tidak boleh ditinggalkan adalah sikap yang terkait dengan profesinya. Pada intinya, dibutuhkan kemampuan penguasaan materi agama Islam yang sangat baik, kemudian sikap dan penghargaan terhadap dakwah yang dilakukannya dan kemudian kemampuan teknis yang menyangkut metodologi dan tehnik dakwah yang memadai.

Karena da’i sebagai agent of change, maka harus mempunyai visi yang jelas tidak saja menyangkut wawasan Islam yang utuh tapi juga visi menyeluruh tentang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Hal ini penting karena pada perjalanannya, seorang dai harus mampu mengarahkan umat pada suatu tatanan mapan, establish, maju dan diperhitungkan di hadapan umat-umat lain. Dai yang professional tidak saja menjadikan Islam sebagai keniscayaan nilai yang terimplementasikan dalam kehidupan manusia, tetapi juga merupakan wacana praksis yang meskipun tidak bisa dipaksakan kepada manusia akan tetapi hanya dengan itulah keadilan dalam maknanya yang paling luas dan dalam dapat terlaksana; tentunya masih pada ranah berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Wallahu a’lam bisshawab.

Makna Spiritual Mudik Lebaran

Oleh : Miftah Nashir

Barangkali fenomena khas dan unik dalam setiap lebaran Idul Fitri adalah mudik. Khas karena fenomena ini menjadi semacam ritual tahunan dan menjadi kebiasaan kolektif bangsa Indonesia yang melekat dalam setiap momen Idul Fitri. Setahun sekali,  orang dari perantauan berduyun-duyun pulang ke kampung halaman pada hari-hari terakhir Ramadan.  Bahkan, Umar Kayam (2002) menyebutkan bahwa mudik telah terjadi berabad-abad lalu y

ang awalnya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Dahulu mudik menjadi kegiatan untuk membersihkan makam leluhur disertai upacara doa bersama untuk dewa-dewa dengan harapan agar para perantau diberi keselamatan dan keluarga yang ditinggalkan selalu dilindungi. Lambat laun akhirnya tradisi itu  terkikis ketika Islam masuk ke tanah Jawa. Meski demikian, peluang kembali ke desa setahun sekali itu muncul kembali lewat momentum Idul Fitri.

Dalam konteks kekinian, mudik menjadi ajang melepas rindu yang merupakan nilai-nilai primordialisme yang bersifat positif atau dalam istilah Emha Ainun Najib mudik sebagai upaya memenuhi tuntutan sukma untuk bertemu dan berakrab-akrab dengan asal-usulnya. Namun, karena tradisi mudik tahunan ini selalu identik dengan hadirnya Idul Fitri, maka maknanya tidak hanya sekadar peristiwa biologis yakni pelepasan rindu kampung halaman, melainkan juga memiliki makna spiritual yang begitu dalam.

Dimensi Spiritual Mudik

Setelah bergelut dengan hiruk pikuk kehidupan kota yang begitu keras maka bersua  dengan keluarga, sungkem kepada orang tua, bertegur sapa dan berbagi rasa dengan tetangga menjadi sebuah kesempatan berharga untuk merestorasi spiritualitas yang terkikis seiring dengan makin ketatnya kompetisi. Maka, dalam hal ini prosesi mudik menjadi semacam transformasi spiritual untuk mewujudkan solidaritas terhadap sesama yang dibelenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan di tengah peradaban modern.

Hal diatas semakna dengan apa yang dilontarkan Jalaluddin Rakhmat yang menganggap bahwa mudik lebaran sebagai sebuah perjalanan melintasi waktu. Disaat manusia merasa menjadi modern yang dibarengi dengan kehilangan rasa kemanusiaannya, maka tak ada lagi ruang kasih sayang dan emosi manusiawi yang ditebarkan bagi manusia lainnya sehingga yang muncul adalah perangai kasar yang mementingkan diri sendiri dan agresif.

Beliau mensinyalir bahwa kita sedang mengembangkan struktur sosial ‘ayam besar’ yang berusaha mematuk yang lemah. Kita telah menjadi materialistis yang siap mengorbankan perasaan kemanusiaan untuk keuntungan material. Semua orang seolah-olah sakit, termasuk para dokter dan pegawai rumah sakit. Untuk itu, diperlukan terapi yang sifatnya massal. Terapi yang diberikan haruslah menghilangkan semangat memiliki material ke semangat kekeluargaan yang spiritual.

Dalam hal ini, spiritualitas mudik setidaknya mengingatkan kita akan keluhuran manusia yang masih memiliki semangat asal. Karena melalui mudiklah, kita sebenarnya diingatkan kembali kepada awal kejadian kita, di mana untuk pertama kalinya kita melihat dunia. Mencenungi saat berada di kandungan ibu. Kandungan disebut pula sebagai rahim. Tuhan pun diseru dengan sebutan ya rahim. Wahai yang memberikan kasih sayang. Kasih sayang Tuhan mewujud pada kasih sayang (rahim) ibu.

Dengan demikian, mudik jangan dijadikan semacam ritual tahunan yang sangat konsumtif. Hal-hal seperti berbagi rezeki, menyambung tali silaturahmi, mengakhiri permusuhan, dan memohon maaf pada kedua orang tua jauh lebih bermakna. Dalam bahasa yang lebih luas,  mudik seharusnya mendorong kita mewujudkan nilai-nilai transenden untuk kemudian sedikit demi sedikit meluruhkan belenggu hedonisme-materialisme yang tercipta di tengah peradaban modern. Semoga.

Sehari 500 Kata

Ada nuansa tersendiri yang hadir, ketika saya (untuk kesekian kalinya) terkenang masa anak-anak yang penuh dengan keindahan, disertai dengan keluguan dan kepolosan tingkah. Tak ada beban pikiran menjemukan, apalagi masalah yang seringkali membuat dahi bekerut berlipat-lipat. Oh INdahnya!

Pada akhirnya, setelah sibuk dan agak lelah dengan aktifitas di siang hari, saya harus menyempatkan diri untuk setidaknya menulis 500 kata dalam sehari. Ritual yang saya ciptakan sekadar sebagai latihan untuk terus mengasah sense menulis. Ini tidak lain menjadi semacam ritual rutin, yang kadang menjemukan, tapi nikmat. Meski berulangkali menulis hal-hal yang absurd dan tidak serta merta dipahami secara utuh apa yang saya tuliskan, bahkan oleh saya sendiri.

Entah apa yang mendorong saya untuk menuliskan sebanyak 500 kata dalam setiap malam. Ada semacam dorongan, entah itu panggilan alam, atau semacam jam biologis yang sadar atau tidak sadar membuat jari saya terus menerus diatas keyboard. Dalam hal ini saya tidak sepenuhnya menyadari kegiatan menulis ini telah menelurkan beberapa kilobyte data, setelah dihitung-hitung, ternyata ini kali ke-64 saya menuliskan sesuatu yang kadang saya menyebutnya sebagai tulisan sampah yang (mungkin) suatu saat akan berguna.

Setidaknya, apa yang berkelindan dalam batok kepala saya bisa tersalurkan dengan sempurna tanpa mengendap lalu menjadi sesuatu hal yang terkadang bikin hati ini agak tertekan. Alhamdulillah aktifitas rutin ini seringkali membuat saya yakin akan potensi diri saya ada dimana. Setidaknya mengasah potensi ini bisa memberi harapan saat kondisi setelah lulus kuliah tidak memihak pada saya, yang mungkin ketika sudah menyandang gelar sarjana sosial.

Aneh, heran dan tak menyangka jika memperhatikan jejak langkah yang telah saya lalui. Begitu banyak kejutan yang tak sempat saya kira sebelumnya. Kesedihan berganti dengan kebahagiaan. Penderitaan berganti dengan hasil yang memuaskan, dan terkadang juga kepahitan selalu menghampiri dalam setiap lipatan waktu. Ya, kita tak pernah bisa secara tepat menerka-nerka apa yang akan terjadi di esok hari.

Ada ketakutan yang entah dari mana datangnya setiap kali membayangkan tentang masa depan. Akankah harapan dan impian-impian yang selama ini tertancap dalam ingatan terealisasi dengan sempurna. Apakah kenyataannya akan benar-benar jauh dari apa yang diharapkan? Entahlah, yang jelas akan ada kejutan-kejutan tersendiri. Dan keyakinan akan rencana Tuhan yang seringkali berakhir dengan indah lagi-lagi tak pernah dikira oleh kita, mahluk serba kekurangan.

…ketika akhirnya menulis menemui kebuntuan, inilah yang saya lakukan. Menulis apa yang terlintas dalam pikiran. Tak perduli apakah serasi atau tidak. Saya semakin tidak peduli ketika akhinya menyadari bahwa proses kreatif seseorang tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh rasio. Perlu pendekatan lain untuk memahami bagaimana seseorang menghasilkan sebuah karya. Entah itu bagus atau jelek. Saya lebih menikmati membuat sesuatu itu atas dasar perintah hati, tidak ada paksaan dan inginnya mengalir begitu saja. Tak ada tekanan. Tak ada deadline, dan yang jelas ini menjadikan sebuah kepuasan yang terus menerus mendorong saya untuk terus menulis hal-hal yang kelihatannya remeh temeh.

Belum terpikir juga apakah tulisan seperti ini layak untuk dibaca oleh khalayak, takutnya ketika di publish ada semacam judge tersendiri dari saya sendiri bahwa tulisan ini jelek. Pada akhirnya pikiran negatif seperti itu perlahan saya hapus, saya pikir tak ada karya yang jelek selama itu dihasilkan dengan proses yang orisinal. Dibanding dengan karya yang serba wah dihasilkan dari hasil menjarah intelektual orang lain.

7/12/2010 9:57:57 PM

Bung Karno “Penyelundup” (?)

Mungkin judul diatas agak provokatif, tapi tenang dulu… saya hanya ingin mengupas sisi unik dari sang proklamator. Saya terharu membaca kisah beliau ketika dipenjara di Sukamiskin, baginya penjara bukanlah halangan bagi beliau untuk terus membaca, meski pemerintah Belanda saat itu, melarang keras Soekarno untuk membaca buku. Namun berkat jasa seorang sipir penjara akhirnya beliau bisa membaca buku diam-diam dengan cara “menyelundupkan” buku. Ini menggambarkan betapa gigihnya seorang Soekarno untuk mendapatkan ilmu, ketika di penjara sekalipun.

Keadaan diatas, kontras sekali dengan kebanyakan mahasiswa zaman kiwari. Bergerombol kesana kemari dengan dandanan serba wah. Berlomba menonjolkan rasa keakuannya sebagai mahluk paling trendy. Sementara itu, buku-buku di perpustkaan seakan menjadi hiasan rak dan barang usang yang tak tersentuh. Sehinga istilah perpustakaan ibarat tokek hampir menjadi sebuah kenyataan. Kenyataan pahit yang menempatkan perpustakaan sebagai tempat paling langka untuk dikunjungi. Miris sekali.

Sebagai insan intelektual, membaca buku atau setidaknya mengunjungi perpustakaan haruslah menjadi kebiasaan dan rutinitas. Tidak perlu didorong dan dikompori oleh dosen untuk membaca buku anu dan itu, juga tak indah rasanya jika seorang mahasiswa tidak membaca satu halaman buku pun dalam satu hari. Memalukan dan sekaligus memprihatinkan. Idealnya membaca buku menjadi semacam menu harian bagi seorang mahasiswa.

Persoalan lain yang cukup pelik adalah minimnya dukungan pemerintah dalam “pembudidayaan” minat baca masyarakat, terkhusus mahasiswa. Tidak adanya program buku murah, pemotongan pajak buku, atau harga khusus bagi pengiriman buku lewat pos menjadi persoalan yang menghambat budaya baca masyarakat Indonesia.

Saya kira, program buku murah atau gratis (kalau bisa) untuk siswa dan mahasiswa bukanlah hal muluk dan melangit. Bisa jadi hal ini menjadi terobosan baru dan spektakuler untuk memajukan pendidikan Indonesia sehingga kita tak perlu lagi malu dengan prestasi pendidikan Indonesia yang hingga kini masih carut-marut. Semoga.

Bagaimana menurut anda ?

Tasikmalaya, 6/28/2010 2:15:40 PM

JIKA SAAT ITU DATANG…


“Apa yang terjadi saat kita tak memiliki upaya untuk menghindarinya? Saat semua usaha, harta, jabatan,  keluarga, -yang begitu kita banggakan- akan hilang dan sirna dari pandangan mata.”

::21 Desember 2008::

MATI. Kata yang penuh rahasia. Ada nuansa ketakutan, kehilangan, tangisan, air mata juga kesakitan (?). Tak ada yang tau, kapan ia datang. Dia datang tak dijemput, pulang pun dia tak meminta diantar. Dia ada disekitar kita. Di jalanan. Di laut. Di sungai atau mungkin dirumah kita. Dia berkelindan dalam setiap lipatan waktu. Kita bisa melihatnya lewat hal yang selalu menyertainya. Bahkan begitu dekat, dekat sekali. Hanya orang yang lengah (karena takdir? ), berpenyakit parah atau tua  yang sering menemuinya. KEMATIAN.

Saat itu malam. Dingin disertai angin. Membuat aku terjaga dari tidurku. Aku menengok kearah jarum jam membentuk sudut 20 derajat : 01.00  dini hari. Ah, kantuk masih terasa, namun masih bisa ku tahan untuk menjaga nenekku yang  terbaring lemah dipembaringan sebuah rumah sakit. Samar-samar aku mendengar suara gaduh. Belakangan aku tahu, suara gaduh itulah yang membuat aku terbangun.  Akhirnya rasa penasaranku mengalahkan hasrat untuk kembali memeluk bantal.

Dalam transisi alam mimpi dan nyata. Aku melihat kerumunan orang. Mereka berkumpul. Persis seperti orang-orang di pasar mengerumuni tukang obat. Tepatnya mengerumuni seseorang yang tengah berbaring. Penasaran aku mendekati kerumunan itu. Ternyata Ijrail sedang menunaikan tugasnya.  Mereka mentalkinkan orang yang sedang mereka kerumuni. Sekaratkah? Yang jelas, aku terpana melihatnya. Oh… begitu susah payah dia untuk bernafas, duduk pun dia lemah, terlentang dia tak bisa, akhirya dia hanya di peluk oleh keluarganya dan dibisikkan kalimat syahadat. Mereka tampaknya menyadari  bahwa Ijrail sedang menunaikan tugasnya.

Oh… begitu susah payah dia untuk bernafas, duduk pun dia lemah, terlentang dia tak bisa, akhirya dia hanya di peluk oleh keluarganya dan dibisikkan kalimat syahadat.

Aku masih saja terdiam di tempat ku berdiri, melihat apa yang akan terjadi. Sesaat kemudian aku melihat tanda bahwa Ijrail sedang mencabut nyawa. Kelihatannya dia kesakitan. Dia sempat memukulkan kedua tangannya ke atas, kemudian sesaat setelah itu hanya tangis dan jeritan yang kemudian terdengar di tengah kesunyian malam.

Aku terpana melihat apa yang sedang aku saksikan ini. Seketika rasa takut menjalari, melewati pori-pori, aliran darah dan sialnya rasa takut mulai merasuki otakku. Aku jadi semakin takut. Jika saat itu tiba,…. (ah, aku tak dapat membayangkannya) Aku merasa belum siap untuk menghadapinya, masih telalu jauh aku dari seorang Muslim yang taqwa. Masih banyak kepalsuan yang menghiasi hati .  Jangan, jangan sekarang atau dalam waktu dekat ini ya Allah… aku ingin jika engkau menjemputku, terukir senyum dalam perjalananku nanti. Amin.

Aku sering merasa bahwa masih banyak waktu untuk dihabiskan. Atau merasa kematian masih jauuh di depan mata. Tapi…. bagaimana kalau takdir berkata lain, siapa yang tahu, besok, lusa, minggu depan, tahun depan adalah hari dimana kita ‘bertransaksi’ dengan Ijrail.

Apakah usia muda bisa dijadikan jaminan bisa hidup lebih lama? Masih merasa bahwa masih banyak waktu untuk mengumpulkan bekal untuk akhirat nanti?

Lalu…Apa aku siap untuk mempertanggungjawabkan diakhirat nanti?

Apa aku siap untuk menerima catatan amal dengan tangan sebelah kiri?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat aku risau. Aku merenung diam sebentar. Berusaha menjawab pertanyaan tadi.

Banyubiru, 14 June 2010, 21:15:37

14 June 2010

21:15:37

AKU DALAM VERSI KEAKUANKU : ANTARA MALAM & PERPUSTAKAAN

“Bahwa menulis adalah menciptakan kata-kata magis yang sengaja dibuat untuk mengalihkan perhatian kita pada suatu fakta”

Aku terus mencari kata apa yang tepat untuk mendeskripsikan Aku dalam versi keakuanku. Kata yang pertama adalah MALAM. Ya, MALAM menjadi situasi favorit bagiku. Saat tiada daya untuk melangkahkan kaki lagi. Hanya bisa diam, menatap layar komputer, menekan tuts keyboard dan membuat pikiranku liar, membimbingku menuliskan sesuatu untuk menumpuk data beberapa kilobyte memenuhi kapasitas hardisk. Hampir setiap hari.

Lagipula MALAM bagiku adalah situasi yang nyaman untuk : berfikir. Menulis atau sekali-kali menikmati senandung syahdu lantunan murottal Al-Ghamadi. Mengingat dan menghitung dosa. Berharap bisa menikmati tangisan di atas sajadah cinta. Dengan tanpa rasa malu meminta dan meminta lagi, dan berulangkali pula aku melakukan kesalahan. Dosa itu lagi. Aku merasa tersindir dengan syair lagu :

selalu ku sesali dosa, dan selalu ku ulang kembali.
dan Kau masih memberi kebahagiaan.
Ku bukan hamba pilihan…..

MALAM juga selalu menjadi saksiku terciptanya beberapa paragraph deskripsi. Meski hanya semacam racauan tulisan, dan seringnya aku diam sesaat kemudian setelah itu. Dilanjutkan dengan melamun. Sesaat kemudian sepi. Dan menggoyangkan jari-jariku kembali.

Atau representasi kata yang kedua adalah PERPUSTAKAAN, sebuah tempat paling “nyaman”dikampusku untuk merenung. Aku ingat, hari-hari sebelumya aku selalu membawa benda kesayanganku ke perpustakaan. Bergegas menuju lantai dua. Menuju kursi favoritku. Celingukan sebentar, mengambil sebuah buku, yang aku ambil sebagai “penyamaran’ agar aku terlihat seperti menulis referensi. Padahal aku sedang asyik “bertelur” ide yang berhari-hari tertimbun dalam otak. Dan beberapa menit kemudian otak kananku bekerja untuk berimajinasi dan berkoordinasi dengan saraf motorik untuk mengetikkan sesuatu.

Setiap ada kesempatan aku gunakan untuk mengejakulasikan ideku disana, aku tak tau, sejak beberapa minggu terakhir otakku ini memaksaku untuk terus mengeluarkan isinya. Aku jadi kelimpungan, terpaksa (dan belakangan aku menikmatinya) harus memenuhi hasrat untuk menyalurkan gairahku untuk menulis. Belakangan aku menyadari bahwa, menulis adalah sebuah kebutuhan. Seperti makan. Seperti minum. Seperti mandi, mungkin juga seperti tidur (ini kegiatan favorit teman-temanku di asrama), atau apalah itu. Aku cuma ingin menegaskan bahwa ilmu tak cukup untuk disimpan sendiri, tapi tulislah, biarlah manfaatnya mengalir jika memang bermanfaat. Masih lebih baik menjadi sebuah tulisan sampah dalam harddisk daripada disimpan dalam otak saja. Tak berguna. Meski dikeluarkan dengan kata-kata dimulut, efek rembesannya tak seberapa.

Aku mulai tak perdulikan apa yang akan kalian atau mereka katakan. Yang jelas aku menikmati kebiasaan ini, kebiasaan yang belakangan aku sadari, perlu kerja otak ekstra untuk menulis sebuah pragraph saja. Dan kebiasaan baruku ini menyadarkan aku akan suatu hal, MEMBACA. Membaca kehidupan, membaca karakter, membaca alam. Ini menjadikan aku sibuk dalam setiap lamunanku, atau setiap aku memandang langit, pohon, wanita cantik, pengemis, pedagang, nenek-nenek . Aku menyandu untuk mengamati simbol-simbol dalam setiap gerakan, lambaian pohon atau setiap hela nafas. Aku semakin mencandu lagi untuk terus memperhatikan simbol-simbol itu, lalu menerjemahkannya kedalam kata. Aku pikir, getaran-getaran udara mengandung simbol, siulan angin juga. Atau setiap bunyi. Gemericik air, dan gerak lagkah manusia di sekitarku.

Tasikmalaya, 11 June 2010, 21 : 39

kawan-kawan : ketika teriakkan tidak lagi di dengar, maka menulislah!