Belajar Bahasa Korea

Anda ingin belajar Bahasa Korea dengan MENYENANGKAN dan EFEKTIF ?

Tanpa perlu banyak teori grammar yang cukup memusingkan? Langsung dilatih dengan metode Dinamic Immersion yang melibatkan alat indera anda?

Kini hanya dengan DUDUK MANIS dan BERSANTAI RIA di depan komputer anda bisa kursus bahasa Korea dengan MENYENANGKAN layaknya kursus di lembaga Kursus Professional. Efektifitas dari software ini berani diadu dengan kursus konvensional dengan biaya yang mahal.

5 Alasan KuaT Mengapa Anda Harus Menggunakan Software Ini.

1. Banyak Kalangan Telah Menggunakannya

Software ini telah digunakan oleh berbagi kalangan di Amerika dan dunia diantaranya : Departemen Dalam Negeri Amerika Pasukan Perdamaian Amerika, Lembaga Astronomi Amerika, NASA, Produk No 1 di Sekolah-Sekolah Amerika dalam Pembelajaran Bahasa,

2. Terbukti Efektif

Software ini menggunakan metode “Dynamic Immersion”, yaitu sebuah metode yang telah TERBUKTI EFEKTIF dalam pembelajaran bahasa yang mendapatkan penghargaan di Amerika Serikat sebagai metode PALING EFEKTIF. (sumber: Rockmen Evaluation Report, 2009)

3. Active Listening :

Software ini menggunakan bahasa penduduk asli untuk mengajari kita mendengarkan, sehingga membuat cepat memahami bahasa sehari-hari, dan mengembangkan kemampuan mendengarkan dan memahami secara mudah. Sehingga anda mudah mengingat kosakata baru dan tidak mudah lupa kosakata tersebut karena tidak diterjemahkan melainkan langsung ditunjukkan kepada konteks kalimat berupa gambar.

4. Mengembankan Kemampuan Membaca (Reading)

Mengembangkan kemampuan membaca dengan menggunakan topik objek, aksi dan kejadian sehari-hari. Dan apabila bacaan kita salah kita akan dibenarkan langsung dan di bimbing oleh software ini, menarik kan??

5. Writing :

Berlatih menulis bahasa yang sedang dipelajari. Tinggal tulis apa yang didengar, dan program ini dengan hati-hati dan teliti memeriksa hasilnya. Wow Keren!!

6. Grammar

Anda belajar grammar secara otomatis, tidak diterangkan rumus ataupun teorinya,sehingga anda secara otomatis mengerti tata bahasanya. kenapa demikian? hal ini dimungkinkan karena anda belajar dengan konteks, artinya anda langsung ditunjukkan kepada konteks aktifitas yang menerangkan sebuah grammar.

7. Speaking

Anda dipaksa untuk bicara secara benar, jika masih salah, maka software ini memberikan indikator dimana letak kesalahannya.

Jangan Khawatir, meskipun software ini buatan Amerika, tapi pembelajarannya sangat Menyenangkan, karena setiap kata asing dalam pembelajaran ini TIDAK DITERJEMAHKAN ke dalam kata, tetapi diterjemahkan melalui GAMBAR. Dan inilah salah satu kunci efektifitas metode DINAMIC IMMERSION.

SOFTWARE INI COCOK, JIKA ANDA :

Jika anda adalah pelajar atau mahasiswa yang ingin meningkatkan kemampuan basaha Korea dengan biaya yang terjangkau namun efektif.

Jika anda mahasiswa yang ingin melanjutkan S2 ke Korea namun terkendala nilai dalam halSpeaking, Writing, Listening dan Reading Skill.

Jika anda adalah seorang yang berniat untuk bekerjadi Korea tapi kemampuan bahasa Korea anda kurang bagus, maka software ini tepat karena didesain untuk orang yang memiliki keterbatasan waktu belajar.

Jika anda ada sebagai Guru Sekolah , Guru Private Bahasa Korea yang ingin materi pelajaran yang MENARIK, UNIK dan INTERAKTIF maka software ini sangat cocok karena software ini telah digunakan oleh siswa-siswa di Amerika untuk mempelajari bahasa Asing.

Jika anda orang yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa Korea dengan BIAYA danWAKTU yang FLEKSIBEL.

Coba Renungkan:

Orang Australia tidak mudah belajar bahasa Indonesia. Tetapi, anak kita yang baru berumur 2-3 tahun sudah pandai berbahasa Indonesia. Apa rahasianya? Apakah anak kita berlajar grammar dulu? Tidak bukan?

Saya percaya bahwa grammar adalah penting. Tapi untuk apa? Untuk hal-hal tertentu memang harus memperhatikan grammar. Tapi kita bisa berkomunikasi dengan baik tanpa harus menguasai grammar dulu, persis seperti anak kita bisa berkomunikasi tanpa harus belajar grammar dulu.Dan anda gak usah bingung !!! Kini kita bisa belajar Bahasa Korea gratis dirumah dengan software belajar Bahasa Korea yang spektakuler. Belajar bahasa asing jadi lebih cepat dan mudah dengan fitur-fitur spektakuler seperti :

Berapa harga dari software ini ???

Harga dari software ini adalah 479 Dollar, dengan asumsi 1 dollar 9.000 rupiah, maka harga dari software ini adalah Rp. 4.311.000. Wow Mahal kan? Dan tentunya harga menentukan kualitas barang. Setuju?

Belum percaya? silakan cek sendiri harganya i disini, http://bit.ly/Q1x92

atau llihat gambar dibawah ini:

harga, kalau anda beli langsung di web atau beli di toko-toko retail software di Amerika

Lalu, berapa Investasi yang kami tawarkan untuk Mendapatkan Software ini ?

Rp.4.000.000,-

Tidak perlu sebesar ini !

Rp. 1.500.000,-

Bahkan juga bukan sebesar ini !

LALU BERAPA??

Yang Jelas Melalui Software dengan Investasi Yang Sangat Ringan Ini Anda Akan :

Mempunyai tempat kursus sendiri yang kapanpun dan dimanapun anda bisa belajar.

Meningkatkan kemampuan bahasa korea mulai dari Writing, Speaking, Reading dan Listening bahkan anda belajar grammar serasa tidak belajar grammar karena anda belajar melalui konteks, sehingga anda secara otomatis memahami grammar.

Mendapatkan software dengan tingkat efektifitas dan kualitas kelas dunia!

Tidak perlu bingung lagi akan kemampuan bahasa inggris anda meskipun anda telah berulang-ulang mengikuti kursus bahasa Inggris.

Mendapatkan keleluasaan waktu belajar, dan anda dapat belajar bahasa Inggris disela-sela kesibukan anda.

3 Level Pembelajaran, yang tiap Level bisa selesai dalam 2 bulan.

Lalu, Berapakah Investasi Untuk Mendapatkan Software yang Langka Ini ?

Rp. 1.000.000,-

Oh bukan ! Tidak perlu sebesar ini !

maka Meskipun saya untuk mendapatkan software ini sangat susah dan sangat jarang karena tidak didistribusikan di Indonesia, Investasi Yang diperlukan hanyalah :

Rp. 400.000,-

Benar-benar investasi yang sangat moderat !

Untuk masa depan anda, saudara, anak atau keluarga anda karena software ini bisa digunakan bersama-sama oleh mereka.

Uppps ! Tunggu Dulu !!Ternyata kami masih dapat membuatnya lebih rendah lagi !!

Dengan Investasi Hanya

Rp. 199.000,- (belum termasuk ongkir) untuk Bahasa Korea. Ya Benar, hanya Rp. 199.000 Saja..

*harga diatas Belum Termasuk Ongkir dari Bandung.

[Bandingkan dengan biaya kursus professional yang rata-rata mematok harga 1,5 juta / 6 bulan dan bandingkan juga dengan jika anda beli di situsnya atau beli langsung di Amerika]

How To Order:

1. Kirim SMS ke 0896 5549 9858 dengan format ” PAKET BAHASA KOREA, Nama, Alamat Jelas, Nama Bank

Contoh : PAKET BAHASA KOREA, Andi, Jl. Sekelimus II no. 38 Kota Bandung, Bank Mandiri

2. Kami akan balas: Total Harga+Ongkir & No Rekening Bank transfer

3. Transfer pembayaran melalui rekening yang dikirim via sms & konfirmasi pembayaran via SMS

4. Bila pembayaran telah kami terima, paket dikirim pada hari konfirmasi jika sebelum jam 4 sore.

5. Paket akan di kirim via JNE.

6. No resi JNE ane kabarin via SMS.

Harga belum termasuk ONGKOS KIRIM. Kami kirim lewat JNE, info tarif bisa liat di http://www.jne.co.id, Lokasi kami di Bandung.

Seriale Online Subtitrate

Kecanduan Facebook

Barangkali facebook sudah menjadi candu bagi saya. Entah kenapa, akhir-akhir ini saya sering merasakan sakit leher karena terlalu lamanya memelototi komputer. Meski dengan facebook saya menjalankan bisnis saya, tetapi entah kenapa ketika saya membuka komputer dan terus mengkoneksikan ke internet, secara otomatis jari saya akan mengetik di adress bar :www.facebook.com. memang aneh. Dan setelah itu, saya seolah-olah melupakan kondisi yang lain, parahnya lagi melupakan tugas yang sebenarnya lebih penting.

Dengan kebiasaan buruk yang baru ini, jujur, saya merasa tersiksa kalau terus menerus harus mengidap kecanduan internet. Saya berfikir untuk mencoba melakukan terapi sendiri, dengan memakai metode hipnoterapi, dan mudah2an ini menjadi self terapi yang berhasil. Saya akui memang, metode ini benar-benar ampuh dan ternyata bisa sukses terhadap beberapa penyakit mental yang saya anggap susah untuk sembuh, tetapi kenyataannya penyakit tersebut bisa disembuhkan berkat niat dan keinginan yang kuat.

Saya merasakan benar-benar merasakan kehilangan waktu yang luar biasa, dari pagi hingga sore saya menghabiskan waktu hanya untuk sekedar online. Meski sebenarnya hal tersebut bisa saya lakukan dengan beberapa jam saja, tetapi entah kenapa diri ini selalu ketagihan untuk selalu membuka tiap halaman-halaman internet.

Tapi, sekarang saya sudah meniatkna kedalam diri saya bahwa menggunakan internet mesti sesuai doses dan takaran yang sesuai. Terlalu banyak tak baik, dan tak menggunakannya sama sekalipun tak baik.

Adanya Jurang Sosial

Semakin banyak waktu yang dihabiskan di dunia maya, tegak lurus dengan semakin berkurangnya kontak sosial di dunia nyata. Semakin orang intens berhubungan dengan teman lewat dunia maya, semakin dia menikmatinya. Atau bisajadi menimbulkan sikap asosial yang berdampak pada kondisi kejiwaan seseorang. Bisa saja menjadi asosial dan tidak peduli terhadap lingkungan tempat dia tinggal.

Sejatinya, teknologi diciptakan untuk semakin memudahkan komunikasi, namun makin maju teknologi semakin mereduksi keintiman komunikasi antar manusia, meski diakui sebelumnya belum ditemukan kondisi dimana setiap orang bisa berbagi dengan yang lainnya. Tetapi ini kemudian menjadi semcam kecanduan semu untuk terus menerus mentap layar komputer hanya untuk menunggu komentar atau pesan yang masuk.

Inilah kemudian manusia sebagai mahluk yang diperbudak oleh teknologi ciptaannya sendiri. Terkadang kita tidak bisa bijak dalam menggunakan teknologi. Layaknya seorang anak yang diberikan mainan baru oleh orang tuanya, masyarakat asyik dengan antusias menikmati kemudahan teknologi.

Bahkan, fenomena in menjadi bidikan pasar para pebisnis yang bergerak dalam bidang telekomunikasi. Kita bisa lihat ramainya iklan operator yang menawarkan layanan-layanan sosial media yang memanjakan penggunanya.

Disatu sisi, ini merupakan perkembangan yang positif. Disisi lain, perkembangan ini dikhawatirkan semakin menjauhkan manusia dari aktifitas sosial secara nyata. Dan tak menutup kemungkinan dimasa depan kita lebih sering komunikasi via teknologi ketimbang bertemu dan bertatap muka secara langsung, dan semakin teralienasi dari kehidupan spiritual. Bisajadi di masa depan akan bermunculan banyaknya tempat ibadah virtual, pengajian virtual sehingga mendorong manusia untuk memilih berhubungan sosial lewat dunia maya ketimbang bertemu dan berinteraksi secara langsung.

 

 

 

 

 

 

Sekedar Berfikir Tentang Penyelesaian KORUPSI

Dewasa ini, permasalahan bangsa Indonesia menjadi semakin kompleks, mulai dari masalah ekonomi, kemanusiaan, bencana alam, bahkan yang sedang marak-maraknya terjadi adalah masalah hukum yang berkaitan dengan maraknya korupsi di Indonesia. Berbicara tentang hukum di Indonesia menjadi menarik, hal ini dikarenakan banyaknya permasalahan hukum yang menjerat para petinggi negeri. Mulai dari kasus Bank Century, sampai kasus yang terbaru yaitu kasus Wisma Atlit yang melibatkan banyak melibatkan para pejabat di negeri ini. Ada yang bilang bahwa permasalahan hukum dinegeri ini, khususnya dalam bidang pemberantasan korupsi adalah pemberantasan yang bersifat tebang-pilih. Ini kemdian menjadi sebuah adagium bahwa hukum di Indonesia hanya berpihak pada yang mempunyai uang, yang berarti hukum bisa dibeli dengan uang. Dalam tataran sehari-hari, kesalahan hukum yang terjadi dimasyarakat masih bisa diselesaikan dengan rasa kekeluargaan, meski sebenarnya hal tersebut bisa diselesaikan secara hukum. Barangkali menjadi karakter bangsa Indonesia yang mempunyai karakter memaafkan. Apakah ini baik dan buruk? Ya, disatu sisi ini memang baik jika diterapkan pada situasi yang tepat. Namun, bisa jadi menjadi suatu hal yang buruk jika diterapkan pada situasi tertentu. Sejatinya, permasahalan hukum adalah berbicara tentang benar dan salah, hitam diatas putih. Yang benar, ya benar yang salah ya salah, tak ada yang namanya pemaafan atas nama kekeluargaan. Namun, inilah Indonesia suatu negeri yang penduduknya dikenal ramah tamah, sehingga masalah hukum masih bisa diselesaikan dengan atas nama kekeluargaan. Solusi Permasalahan Jikalau berbicara solusi permasalahan, saya kira terlalu banyak masalah yang perlu diselesaikan, namun kiranya tidak salah jika saya mencoba untuk memberi solusi. Yang akan saya fokuskan adalah solusi tentang permasalahan penegakkan hukum di Indonesia. Berlatar belakang dari banyaknya pelanggaran hukum di Indonesia, mulai dair pejabat RT sampai setingkat menteri selalu saja ada permasalahan yang menyangkut hukum. Ya, dengan demkian ada sebenarnya dengan mental masyarakat Indonesia? Menurut hemat saya, yang harus diperbaiki adalah mental bangsa Indonesia yang tidak sadar hukum. Barangkali banyak orang Indonesia yang pintar dalam masalah hukum, namun hal tersebut bukan menjadi jaminan bahwa mereka sadar akan penerapan hukum. Ibaratnya, yang ngerti tentang hukum malah mencari jalan untuk menghindar dari hukum. Jadi, mulai dari manakah perbaikan mental yang sudah membudaya ini? Hemat saya, yang dalam rangka restorasi mental bangsa Indonesia yang sudah sedemikian parah ini tidak lain adalah dengan pendidikan. Pendidikan yang seperti apa? Pendidikan yang berbasis Islam yang mengajarkan akan ahlakul karimah, dan yang terpenting adalah pendidikan yang berwawasan Alqur’an dan Sunnah. Selain itu, harus ditekankan dalam sistem pendidikan adalah pendidikan anti korupsi yang berwawasan aksi. Pendidikan antikorupsi mesti diterapkan di setiap jenjang pendidikan, mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Hal ini merupakan upaya bahwa perilaku korup merupakan perilaku yang memalukan dan harus dijauhi. Hal ini menimbulkan kesan kepada koruptor, bahwa mereka merupakan manusia yang terhina. Sebisa mungkin dalam pendidikan kita dikesankan bahwa perilaku korupsi, skala kecil maupun besar merupakan perbuatan yang tercela. Sehingga dengan demikian, ketika berada dilingkungannya dan melakukan perilaku korupsi, maka dengan sendirinya lingkungannya akan mengasingkan orang yang berperilaku tersebut. Pada akhirnya, perubahan sistem pendidikan merupakan political will dari pemerintah itu sendiri, apakah berniat merubaha keadaan atau tidak. Nampaknya jika pemerintah merasa nyaman dan merasa tidak perlu untuk melakukan revolusi pendidikan, maka perlu diadakan gerakan massif untuk bersama-sama memperbaiki sitem pendidikan di Indonesia. Semoga.

Membeli Waktu

Tidak ada yang istimewa pagi ini, sama seperti pagi yang dahulu. Menjalani rutinitas pagi dan ini itu. Terkadang membuat diri ini terasa biasa-biasa saja. Namun, tentu saja kita bisa membuat pagi lebih berbeda dengan menulis sesuatu. Minimal mengungkapkan pemikiran kita, agar terasa lebih bermakna. Mencoba menikmati setiap detak waktu dengan karya terbaik, persembahan untuk dunia.

Memang, untuk menghasilkan karya terbaik mesti dilakukan dengan usaha terbaik pula. Tak ada kata kompromi untuk meraihnya. Pekerjaan yang dilakukan dengan cara yang bias, sudah bisa dipastikan akan memperoleh hasil yang biasa-biasa saja. Hukum alam pasti berlaku, man jadda wa jadda. Yang bersungguh-sungguh pasti dia akan mendapatkannya.

Teringat pada sebuah syait nasyid favorit saya, yang berjudul Terbaik yang dinyanyikan oleh Tashiru. Begini penggalana syairnya “Sesungguhanya kesungguhan adalah keberhasilan”. Selalu terngiang-ngiang syair tersebut di ingatan saya. Mendengarnya seolah memberi energi tambahan kepada saya untuk terus melakukan sesuatu dengan penuh semangat dan cinta. Saya menyadari sudah terlalu banyak waktu yang saya habiskan untuk membuang-buang waktu, dengan kesadaran penuh bahwa waktu itu sangat berharga dan tak dapat dinilai dengan uang.

Jika, ada yang bertanya, berapakah harga waktu? Seandainya anda tahu bahwa ajal anda adalah 3 bulan lagi, ditukar dengan apakah sisa waktu anda sehingga anda menjadi rela? Tentunya anda akan berpikir2 ulang untuk menukar waktu tersebut, meski dengan iming-iming apapun.

Ok, jadi sekarang kita menyadari  fakta tak terbantahkan bahwa waktu itu adalah sangat berharga. Saking berharganya kita tidak bisa menggantinya dengan materi. Dan memang tidak bisa digantikan dengan materi.

Sehingga, tak heran jika Allah Swt bersumpah atas waktu. Demi waktu! Sesungguhnya manusia ada dalam kerugian. Ini menggambarkan betapa ruginya manusia jika tidak menggunakan waktu yang telah dimiliki. Sepenuhnya kita yakin bahwa setiap detik yang berdetak itu adalah proses pengurangan jatah usia kita didunia. Maka, betapa ruginya jika jatah waktu yang diberikan oleh Allah SWT kita sia-siakan dengan perbuatan-perbuatan yang sia-sia.

Sejatinya, kesadaran akan pentingnya waktu membawa kita untuk terus menerus memanfaatkan waktu dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Tentu saja dengan mengerahkan segala kemampuan dan mengerahkan segala kualitas yang kita miliki. Pada intinya, all out adalah harga mati untuk setiap aktifitas. Komitmen 100% menjadi sebuah prinsip yang tak bisa ditawar2 lagi untuk menjemput mimpi dan meraih kesuksesan.

Sudah menjadi mafhum, bahwa meraih kesuksesan dan meraih mimpi berarti menantang berbagai masalah dan rintangan. Ya, memang sudah menjadi sunnatullah jika ingin mencapai sesuatu maka harus berusaha sekuat mungkin. Tak ada yang gratis di dunia, semua perlu dibayar dengan harta dan komitmen 100 % yang seringkali membuat kita patuh untuk menjalaninya.

Pada akhirnya, kita tidak bisa menambah dan menunda jatah usia kita, selama masih mempunyai waktu dan kesempatan selama itulah kita bisa memberikan karya terbaik untuk dunia dan akhirat. Sehingga ketika seandainya diakhirat ditanya, karya terbaik apa yang telah engkau persembahkan? Maka,kita akan menjawab dengan tenang dan bangga tentang keberhasilan kita didunia.

Mulai sekarang dan seterusnya, lebih bijak lagi jika dalam setiap lipatan waktu kita menghadirkan Allah dalam setiap nafas dan linatasan pikiran. Karena sejatinya, Dia lah yang memberikan usia kepada dan Dialah yang telah menghidupkan kita di dunia.

Arti Sebuah Karya

Berbicara tentang menghasilkan sebuah karya,  berarti membicarakan tentang tantangan. Justru ketika memutuskan untuk berkarya, entah itu membuat buku ataupun yang lainnya maka sebenarnya kita sedang menantang diri untuk menghadapi berbagai masalah yang kerap muncul. Hal ini wajar saja dan kerap terjadi pada para penulis pemula yang kerap tidak fokus untuk menuangkan gagasannya. Ya. Contohnya seperti saya ini yang belum kelar-kelar juga menyelesaikan sebuah buku, padahal outline dan berbagi media yang mendukungnya telah ada dihadapan mata.

Saya berfikir, apakah ini disebabkan oleh mindset? Mindset bahwa mengerjakan sebuah karya harus memakan waktu yang lama, harus memakan waktu berbulan-bulan. Pertanyaannya kemudian,disatu sisi banyak orang yang mampu menelurkan karya hanya dalam hitungan minggu, atau bahkan hitungan hari. Meski dengan waktu yang singkat mereka bisa membuktikan bahwa karya mereka memang patut diperhitungkan sebagai sebuah karya. Bahkan beberapa diantaranya banyak yang telah membuktikan bahwa karya yang dikerjakan dengan cepat malah menjadi produk best seller dan diminati oleh masyarakat. Berbicara tentang membuat buku, memang tidaklah sederhana yang dibayangkan. Dan juga tidak begitu sulit untuk dilakukan. Bisa jadi pola pikir kita yang memandang sesuatu menjadi penghambat kenapa hidup kita biasa-biasa saja atau kenapa kualitas kita tidak begitu diperhitungkan oleh orang lain.

Satu lagi yang bisa menjadi virus adalah cepat puas sesaat setelah menyelesaikan karya. Padahal, merasa puas diawal justru menjadi pelemah untuk terus melangkahkan kaki. Bukannya kita dituntut untuk serba sempurna, karena tak ada juga yang sempurna di dunia ini. Yang terpenting didalam membuat karya adalah lakukan yang tebaik dan kerahkan segala kemampuan yang kita punya. Jangan kemudian melakukan sesuatu hal dengan setengah-setengah atau melakukan sesuatu serba tidak beres.

Keyakinan kita jugalah yang pada akhirnya membawa kita pada apa yang kita inginkan suatu hari nanti. Pernahkah kita melihat seseorang yang telah sukses? Mungkin seringkali kita melihat dia setelah dia sukses, lalu pertanyaannya adalah apakah kita sering bertanya bagaiamana keadaan dia sebelum dia meraih kesuksesannya? Saya yakin, rata-rata orang sukses mencapai kesuksesannya dengan susah payah dan perjuangan yang keras. No Pain, No gain. Berakit-rakit dahulu berenang-renangkemudian, bersakit=sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Begitulah peribahasa mengatakan. Peribahasa tersebut seolah mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis, semua butuh proses dan usaha. Dan sekali lagi, tak ada makan siang gratis, semua perlu dibayar harganya barulah kita bisa meraih hasilnya.

Saya tak bisa membayangkan, jika akhirnya seorang Thomas Alpha Edison berhenti pada beberapa percobaan untuk menemukan lampu. Seandainya dia berhenti pada percobaan yang kesekiankalinya, mungkinkah lampu dapat ditemukan?

Menulis sebagai panggilan jiwa?

Serasa klise menuliskannya.  Menuliskan sesuatu harus merupakan suatu panggilan jiwa,  hehe. Saya sekarang baru menyadari bahwa saya tipe penulis yang tak focus pada tulisannya, beberapa kali menulis saya selalu ngaco dan tak keruan,dan kecenderungannya untuk selalu membicarakan diri sendiri. Kenapa pula untuk membicarakan persoalan orang lain agar terasah rasa peduli terhadap orang lain.

Meski, memang terkadang untuk memulai sesuatu yang telah lama ditinggalkan terselip rasa keengganan, barangkali dalam hal ini kawan-kawan pernah mengalami hal ini, saya tidak tau bagaimana persisnya yang jelas semua hal yang menjadi sebuah kebiasaan baik selalu saja berakhir dengan akhir yang tak begitu menyenangkan.

Contohnya aja dengan kegiatan menulis, ada beberapa pikiran liar yang hendak dituliskan namun mendadak buyar karena ketiadaan kemampuan focus untuk menulis, meski hanya menulis sekedar catatan biasa di facebook. Ya, perlu dimaklumi juga untuk penulis pemula, istilah ini terkadang saya terapkan kepada diri saya karena masih belum juga menelurkan buku. Ah, saying sekali.

Belum mampu bukan berarti tak mampu. Cukup dipahami bahwa setiap orang mempunyai proses uniknya masing-masing untuk menunjukkan karya-nya. Meski kadang, proses yang dijalani tak sepenuhnya dipahami oleh setiap orang. Memang unik sih proses kreatif seeorang, dan saya yakin jika proses kreatif itu dimunculkan oleh sesuatunya. Nah, ini kemudian yang menjadi perhatian menarik yaitu “bagaimana sih proses kreatif itu muncul?”. Jawaban dari pertanyaan ini bisa jadi menjadi beragam mengingat isi kepala dan ide-ide setiap manusia dijagad ini berbeda.

Ide atau gagasan ter ejewantah dalam bentuk karya. Atau katakanlah karya adalah bentuk ke-akuan seseorang. Sederhananya karya menunjukkan eksistensi seseorang, kalau Rene Descartes Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada, maka dalam konteks ini, berkarya maka aku ada.

Sebagai bahan refleksi, bahwa membuat karya berarti membuat sejarah tentang hidup kita. Sejatinya,  kita sendiri yang memilih mau seperti apa sejarah tentang kita ditulis, apakah hanya sebatas beberapa baris tulisan di batu nisan atau menjadi perbincangan dan sumber pencerahan bagi manusia yang pernah mengenal kita atau generasi setelahnya. Berkarya menjadi semacam bukti bahwa diri pernah mengisi ruang bumi atau setidaknya menjadi saksi bahwa keberadaan diri menjadi

Berkarya merupakan titik dimana kita bisa menembus batas yang dibuat diri kita sendiri.

Berapa Harga Sebuah Komitmen?

Mengerjakan sebuah komitmen itu perlu kesabaran ekstra, ya perlu ada ingatan yang terus menerus untuk mengingatkan pikiran kita bahwa kita mempunyai komitmen terhadap sesuatu.

Ketika komitmen itu terwujud, maka hal yang akan dituai adalah hasil yang diharapkan. Saa kini menjadi paham bahwa komitmen terhadap apapun menjadikan kita semakin berdaya terhadap sesautu tersebut, tejkanan dari luar seharusny menjadikan kita semakin kuat..

Kembali pada komitmen, ibaratnya sebuah tali untuk menggantungkan sesuatu ke atas bukit tebing yang tinggi, jika tali itu tidak diikat dengan kuat maka tali tersebut akan cenderung untuk roboh dan apa yang akan terjadi. Itu akan membahayakan penggunanya.

Tentu saja, berkomitmen pada diri sendiri sama halnya membuat janji kepada diri sendiri. Ketika janji itu tidak tepenuhi oleh diri sendiri maka hal tersebut akan menarikkan rekening kepercayaan diri di bank kepribadian. Maka, selayaknyalah kita berhati-hati untuk berjanji kepada diri sendiri karena ketika janji itu tidak diindahkan, maka kepercyaan terhadap diri sendiri sedikit demi sedikit terkikis dan akhirnya menyebabkan diri kita tidak berdaya.

Adalah bagus jika kemudian diri ini terus menerus mensugestikan bahwa diri ini mesti selalu menepati kepada diri sendiri. Untuk mensiasati hal ini kita bisa menentukan hal apa yang bisa kita berikan kepada diri sendiri, jika telah terpenuhi komitmennya. Atau sebaliknya, apa seharusnya yang harus diberi sanksi kepada diri sendiri jika diri kita tidak menepati komitmennya. Sekali lagi, komitmen adalah harga penting dari sebuah pencapaian. Pencapaian terhadap apapun.

Kenyataannya untuk mewujudkan komitmen tersebut memang tidak semudah membalik telapak tangan. Seringnya alam bawah sadar kita membisikkan sesuatu untuk melakukan sesuatu diluar komitmen yang telah ditetapkan. Bila demikian yang tejadi, maka jalannya adalah dengan mempengaruhi pikiran bawah sadar kita agar sesuai dengan tujuan dan komitmen yang telah diciptakan.

Misalnya, menulis. Kita berkomitmen untuk menulis minimal 15 menit sehari,. Tapi ketika satu hari saja dilewatkan, maka pikiran kitapun akan terus menerus mentolerir bahwa meninggalnya tidak akan menjadi hal yang besar. Beda lagi ketika pikiran bawah sadar kita mengidentifikasi bahwa pelencengan terhadap komitmen merupakan sebuah pelanggaran yang besar, maka hal tersebut akan kemudian diperhatikan sebagai sesuatu yang penting.

Komitmen, memang harga mati untuk sebuah kesuksesan. Komitmen tidak bisa dibayar harganya. Komitmen tidak bisa diuangkan dan komitmen bisa kita ciptakan sendiri dengan memastikan diri sendiri bahwa apa yang dilakukan merupakan yang tebaik yang kita berikan. Semoga bermanfaat.

Menggagas Profesionalitas Juru Dakwah

Oleh : Miftah Nashir

Dewasa ini permasalahan ummat Islam semakin kompleks dan multidimensional, tidak hanya masalah moral, ibadah ataupun aqidah tetapi juga menyangkut masalah ekonomi, sosial,budaya bahkan politik. Tentu saja ini menjadi persoalan tersendiri bagi para aktifis dakwah dan menuntut pemecahan yang tidak sederhana. Maka dalam hal ini dai sebagai agent of change dituntut melakukan terobosan dan inovasi dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Dakwah Sebagai Aktifitas Profesional

Melihat fenomena tersebut, perlu adanya protokol yang jelas (baca : standardisasi profesi) dalam aktifitas dakwah yang dapat menjadikan para juru dakwah lebih bertanggungjawab, peka, tanggap dan inovatif dalam penyampaian dakwahnya. Perlu upaya komprehensif agar tujuan dakwah tercapai, sehinnga pesan dakwah tidak hanya sampai pada tahap penghayatan tetapi juga pada taraf aplikasi. Dalam hal inillah dai dituntut professional. Lantas, bagaimanakah dai yang profesioal itu?

Menjawab fenomena ini, muncul gagasan untuk menjadikan aktifitas dakwah menjadi aktifitas profesional yang serta merta menjadikan subjeknya menjadi seorang profesional. Tentu saja upaya menjadikan dai sebagai profesi ini bukan upaya bagaimana mencari penghidupan dari kegiatan dakwah. Hanya saja dalam penerapannya perlu difahami bahwa profesionalitas juru dakwah bukan untuk melegitimasi atau formalisasi juru dakwah sebagai lahan pekerjaan untuk mencari penghidupan an sich, namun sebagai upaya peningkatan kualitas dakwah, sehingga kemudian kegiatan dakwah menjadi rapih, terorganisir dan akuntabel. Ekses positifnya adalah target dan tujuan dakwah tercapai pada sasaran dan target yang tepat.

Kriteria Profesionalitas Dai

Profesional adalah orang yang menyandang suatu jabatan atau pekerjaan yang dilakukan dengan keahlian atau keterampilan yang tinggi, secara otomatis ini berpengaruh terhadap penampilan atau performance orang tersebut dalam menjalankan profesinya. Maka da’i yang professional setidaknya dituntut memiliki tiga 3 kriteria profesi yaitu: knowledge, skill, experience. Dalam pengertian yang lebih luas dai dituntut memiliki pengetahuan mumpuni tentang profesinya, kemampuan yang berkaitan dengan profesinya serta pengalaman dalam menjalankan profesinya. Lebih khusus untuk dai, hal penting yang tidak boleh ditinggalkan adalah sikap yang terkait dengan profesinya. Pada intinya, dibutuhkan kemampuan penguasaan materi agama Islam yang sangat baik, kemudian sikap dan penghargaan terhadap dakwah yang dilakukannya dan kemudian kemampuan teknis yang menyangkut metodologi dan tehnik dakwah yang memadai.

Karena da’i sebagai agent of change, maka harus mempunyai visi yang jelas tidak saja menyangkut wawasan Islam yang utuh tapi juga visi menyeluruh tentang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Hal ini penting karena pada perjalanannya, seorang dai harus mampu mengarahkan umat pada suatu tatanan mapan, establish, maju dan diperhitungkan di hadapan umat-umat lain. Dai yang professional tidak saja menjadikan Islam sebagai keniscayaan nilai yang terimplementasikan dalam kehidupan manusia, tetapi juga merupakan wacana praksis yang meskipun tidak bisa dipaksakan kepada manusia akan tetapi hanya dengan itulah keadilan dalam maknanya yang paling luas dan dalam dapat terlaksana; tentunya masih pada ranah berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Wallahu a’lam bisshawab.

Makna Spiritual Mudik Lebaran

Oleh : Miftah Nashir

Barangkali fenomena khas dan unik dalam setiap lebaran Idul Fitri adalah mudik. Khas karena fenomena ini menjadi semacam ritual tahunan dan menjadi kebiasaan kolektif bangsa Indonesia yang melekat dalam setiap momen Idul Fitri. Setahun sekali,  orang dari perantauan berduyun-duyun pulang ke kampung halaman pada hari-hari terakhir Ramadan.  Bahkan, Umar Kayam (2002) menyebutkan bahwa mudik telah terjadi berabad-abad lalu y

ang awalnya merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Dahulu mudik menjadi kegiatan untuk membersihkan makam leluhur disertai upacara doa bersama untuk dewa-dewa dengan harapan agar para perantau diberi keselamatan dan keluarga yang ditinggalkan selalu dilindungi. Lambat laun akhirnya tradisi itu  terkikis ketika Islam masuk ke tanah Jawa. Meski demikian, peluang kembali ke desa setahun sekali itu muncul kembali lewat momentum Idul Fitri.

Dalam konteks kekinian, mudik menjadi ajang melepas rindu yang merupakan nilai-nilai primordialisme yang bersifat positif atau dalam istilah Emha Ainun Najib mudik sebagai upaya memenuhi tuntutan sukma untuk bertemu dan berakrab-akrab dengan asal-usulnya. Namun, karena tradisi mudik tahunan ini selalu identik dengan hadirnya Idul Fitri, maka maknanya tidak hanya sekadar peristiwa biologis yakni pelepasan rindu kampung halaman, melainkan juga memiliki makna spiritual yang begitu dalam.

Dimensi Spiritual Mudik

Setelah bergelut dengan hiruk pikuk kehidupan kota yang begitu keras maka bersua  dengan keluarga, sungkem kepada orang tua, bertegur sapa dan berbagi rasa dengan tetangga menjadi sebuah kesempatan berharga untuk merestorasi spiritualitas yang terkikis seiring dengan makin ketatnya kompetisi. Maka, dalam hal ini prosesi mudik menjadi semacam transformasi spiritual untuk mewujudkan solidaritas terhadap sesama yang dibelenggu kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan di tengah peradaban modern.

Hal diatas semakna dengan apa yang dilontarkan Jalaluddin Rakhmat yang menganggap bahwa mudik lebaran sebagai sebuah perjalanan melintasi waktu. Disaat manusia merasa menjadi modern yang dibarengi dengan kehilangan rasa kemanusiaannya, maka tak ada lagi ruang kasih sayang dan emosi manusiawi yang ditebarkan bagi manusia lainnya sehingga yang muncul adalah perangai kasar yang mementingkan diri sendiri dan agresif.

Beliau mensinyalir bahwa kita sedang mengembangkan struktur sosial ‘ayam besar’ yang berusaha mematuk yang lemah. Kita telah menjadi materialistis yang siap mengorbankan perasaan kemanusiaan untuk keuntungan material. Semua orang seolah-olah sakit, termasuk para dokter dan pegawai rumah sakit. Untuk itu, diperlukan terapi yang sifatnya massal. Terapi yang diberikan haruslah menghilangkan semangat memiliki material ke semangat kekeluargaan yang spiritual.

Dalam hal ini, spiritualitas mudik setidaknya mengingatkan kita akan keluhuran manusia yang masih memiliki semangat asal. Karena melalui mudiklah, kita sebenarnya diingatkan kembali kepada awal kejadian kita, di mana untuk pertama kalinya kita melihat dunia. Mencenungi saat berada di kandungan ibu. Kandungan disebut pula sebagai rahim. Tuhan pun diseru dengan sebutan ya rahim. Wahai yang memberikan kasih sayang. Kasih sayang Tuhan mewujud pada kasih sayang (rahim) ibu.

Dengan demikian, mudik jangan dijadikan semacam ritual tahunan yang sangat konsumtif. Hal-hal seperti berbagi rezeki, menyambung tali silaturahmi, mengakhiri permusuhan, dan memohon maaf pada kedua orang tua jauh lebih bermakna. Dalam bahasa yang lebih luas,  mudik seharusnya mendorong kita mewujudkan nilai-nilai transenden untuk kemudian sedikit demi sedikit meluruhkan belenggu hedonisme-materialisme yang tercipta di tengah peradaban modern. Semoga.

Bandung (Bukan) Lautan Sampah

“Selama ini masyarakat tidak dididik untuk tahu—atau mau tahu—tentang dari mana benda-benda yang dikonsumsi berasal, berapa banyak sumber daya alam yang digunakan untuk memproduksi itu semua, dan ke mana semua itu akan berakhir riwayatnya—kertas, tisu, bungkus permen, puntung rokok, komputer, pakaian, dan sebagainya.”

Kerusakan di muka bumi telah tampak nyata dan semakin hari semakin memprihatinkan. Terutama masalah sampah yang menjadi masalah krusial dalam isu kerusakan lingkungan hidup.

Dalam 5 tahun terakhir saja, volume sampah di Bandung bertambah rata-rata 41 % atau 462.430 m3 per tahun. Parahnya lagi, volume sampah yang diolah baru 10% dari total produksi sampah kota. Sedangkan setiap tahun volume sampah bertambah terus menerus. Setiap penduduk berpotensi menghasilkan sampah 3 liter per hari. Tak heran dengan jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa, beban sampah tahun 2005 mencapai 7500 m3 per hari.

Ternyata sampah yang terkumpul dari rumah tangga, kemudian diangkut ke TPA, tidak serta merta menyelesaikan persoalan. Malah menimbulkan persoalan lain seperti kejadian fenomenal longsor di Leuwigajah. Tumpukan sampah menyebabkan gas metana yang berdekomposi menghasilkan panas yang sangat tinggi ketika ada tekanan udara dari atas, sementara bagian tumpukan sampah paling bawah mengandung bakteri anaerob yang tidak bisa bersenyawa dengan udara. Akibatnya, tekanan udara berbalik ke atas menghasilkan ledakan besar mirip bom berkekuatan tinggi.

Perlu Kesadaran Kolektif
Bermasalahnya pengelolaan sampah bukan sekedar karena keterbatasan teknologi dan ekonomi semata, melainkan lebih pada adanya masalah budaya; kebiasaan lama, perilaku dan pola pandang keliru terhadap sampah dan ini harus segera dikoreksi. Dewi Lestari berpendapat bahwa selama ini masyarakat tidak dididik untuk tahu—atau mau tahu—tentang dari mana benda-benda yang dikonsumsi berasal, berapa banyak sumber daya alam yang digunakan untuk memproduksi itu semua, dan ke mana semua itu akan berakhir riwayatnya—kertas, tisu, bungkus permen, puntung rokok, komputer, pakaian, dan sebagainya. Pelajaran Biologi, misalnya, mungkin sebagian relatif gagal karena tidak membuat murid bertanya mengapa petani cukup sering mengalami kekurangan pupuk, atau mengapa sumber air bersih di sekitar mereka sudah tak lagi jernih.

Persoalan pelik tentang sampah ini, tidak melulu menjadi urusan pemerintah atau aktifis lingkungan saja. Sebagai contoh, di Kota Bandung saja, potensi sampah yang dihasilkan mencapai 3.677.377 meter kubik per hari,dan hanya 82 persen saja yang mampu diangkut oleh Dinas Kebersihan. Maka, perlu adanya kesadaran kolektif sinergis antara pemerintah, aktifis, pendidik dan masyarakat umum. Perlu adanya gerakan pengelolaan sampah yang benar, yang dimulai dari individu-individu dalam skala kecil.

Mengubah Paradigma Masyarakat

Dampak lingkungan di perkotaan cenderung tidak terdistribusi secara merata, baik secara sosial maupun geografis. Selama ini solusi permasalahan sampah masih menggunakan pola mengalihkan sampah ke tempat lain, atau sering disebut dengan NIMBY (Not In My Back Yard), fenomena ini melekat pada individu-individu yang tidak peduli pada lingkungan sekitar. Yang penting lingkungan saya bersih, sehat, tak peduli lingkungan sekitar mau bersih atau tidak. Gamblangnya, NIMBY sebagai masnifestasi sikap apriori dan ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar, asal saya sehat tak peduli orang lain sakit karena ulah saya. Asal lingkungan rumah saya bersih, tak peduli lingkungan tetagga kotor.

Menyikapi hal ini, perlu adanya pengelolaan alternatif yang dapat dapat menuntaskan persoalan secara menyeluruh. Dalam hal ini alternatif landfill kurang tepat. Memang secara sepintas, metode landfill relatif mudah dilakukan dan bisa menampung sampah dalam jumlah besar. Akan tetapi, jika tidak dilakukan dengan benar, landfill dapat menimbulkan masalah, yaitu bau dan pencemaran air. Selain itu, gas metana yang dihasilkan oleh landfill yang tidak dimanfaatkan akan menyebabkan efek pemanasan global dan jika termampatkan di dalam tanah, gas metana bisa meledak.

Solusi Alternatif Ideal?
Solusi alternatif yang dipilih harus bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah dan menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Pemilahan sampah organik dan anorganik untuk kemudian dikomposkan dan didaur-ulang dalam hal ini bisa dijadikan alternatif, meski tidak serta merta menyelesaikan permasalahan sampah secara singkat. Alternatif ini lebih baik daripada daripada membuang sampah ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada saat ini. Sampah yang telah di daur ulang, kemudian dimanfaatkan oleh industri yang mendesain bahan produknya dari sampah yang didaur ulang. Bisa menghasilkan pupuk kompos, kerajinan dari bekas kemasan kopi, dan lain sebaginya.

Pada akhirnya memperlakukan sampah dengan baik akan memberikan nilai positif. Selain mengedukasi masyarakat tentang bagaimana mengelola sampah yang benar, juga dapat menghasilkan nilai ekonomi yang tidak bisa dibilang sedikit. Hanya saja perlu adanya gerak aktif dan sinergis dari semua pihak untuk duduk bersama dan seiya sekata dalam menyelesaikan permsalahan sampah ini. Bila semuanya menyadari arti penting dan manfaat kebersihan lingkungan, maka membuang sampah sembarangan akan menjadi hal yang langka di Indonesia. Semoga.